///DIA ada di tengah-tengah kami

DIA ada di tengah-tengah kami

Pagi itu terasa menegangkan… Walaupun minuman hangat, roti, selai, dan vitamin yang biasa dikonsumsi setiap pagi sudah lengkap tersedia di meja makan, suasana pagi itu terasa dingin dan senyap. Himawan, Paula, dan putri mereka Gaby duduk melingkar di meja makan… Setelah senyap mendera selama bermenit-menit, Himawan sang kepala keluarga berucap sambil menatap tajam Gaby putri semata wayangnya, Jadi bagaimana, Gaby? Ayah tunggu keputusanmu “apakah kamu mau taat atau tidak.” Kalimat singkat yang disampaikan dengan nada suara yang dalam itu mewakili hatinya yang berat menunggu keputusan putri yang sangat dikasihinya. Begitu senyapnya suasana pagi itu, hingga bahkan suara detak jarum jam dinding di ruang makan pun sampai terdengar jelas. Keheningan seolah ikut menunggu keputusan Gaby. Pandangan mata Himawan tidak lepas dari Gaby, menunggu suara keluar dari mulut anak gadisnya itu, sementara Paula sang ibu bergumul dengan setiap rasa yang muncul di hati dan pikiran.

Gaby, si putri tunggal keluarga kecil ini, masih terus tertunduk dengan wajah kesal. Sesekali, terdengar isak tangisnya. Usia praremaja yang sedang dimasuki sang putri kelihatannya memberikan berbagai warna baru di tengah keluarga ini. Hal-hal yang sebelumnya mudah dipahami mulai menjadi pelik. Terkadang, hal-hal pelik itu dirasakan bukan hanya oleh Himawan dan Paula sebagai orang tua, tetapi begitu pula oleh Gaby sebagai seorang anak. Rasanya, sekarang banyak perasaan dan perkataan menjadi nggak nyambung…

Sejak masuk kelas VII, Gaby memang menunjukkan ketertarikan yang lebih untuk berada lebih lama di sekolah bersama dengan teman-temannya. Selain menikmati perjalanan pulang pergi ke sekolah dengan bersepeda bersama sahabatnya, Gaby juga terlibat dalam beberapa kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, seperti paskibra, paduan suara (padus), dan bola voli. Semua aktivitas itu membuat Gaby sering tiba di rumah menjelang waktu magrib. Di satu sisi, Himawan dan Paula sebagai orang tua mengerti bahwa putrinya sedang memasuki masa praremaja dengan segala dinamikanya, termasuk menggunakan gadget, tetapi di sisi lain juga mulai timbul kekhawatiran di hati mereka karena maraknya kejadian-kejadian negatif yang kadang menjadi viral di medsos: pelecehan dan salah pergaulan akibat perkembangan teknologi informasi lewat ponsel.

Pagi itu, Gaby berhadapan dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan sebelumnya bahwa jam yang diberikan oleh Himawan dan Paula sebagai orang tua kepadanya untuk memegang gadget adalah setengah jam di siang hari sepulang sekolah dan setengah jam sebelum tidur di malam hari. Tentunya, dengan perubahan jam pulang sekolah Gaby yang semakin larut, kesepakatan itu mulai menimbulkan masalah. Di hari-hari dia pulang menjelang magrib, Gaby minta supaya ayah ibunya tetap memperhitungkan “jatah” waktu gadget-nya di siang hari untuk dapat digunakan saat sepulang sekolah. Sebagai orang tua, Himawan dan Paula melihat hal ini berdampak pada menurunnya konsentrasi Gaby saat mempersiapkan diri berdasarkan agenda sekolah keesokan harinya. Tidak jarang, Gaby menjadi bad mood, bahkan sampai pagi harinya. Karena itulah, Himawan dan Paula meminta Gaby untuk memutuskan, taat atau tidak untuk kembali ke kesepakatan “jatah” jam menggunakan gadget. Pagi itu Gaby berjuang dengan segala rasa di hatinya. Anak gadis itu sedang galau… Dia tak ingin kehilangan waktu beraktivitas sampai sore di sekolah bersama teman-temannya, tetapi juga tak rela kehilangan “jatah” jam menggunakan gadget sepulang sekolah.

Dalam kesenyapan menunggu jawaban Gaby itu, sekilas suara kecil muncul di hati Paula sang ibu, “Izinkan putrimu pulang sekolah menjelang magrib, tetapi konsekuensinya adalah di hari pulang sore itu tidak ada “jatah” jam pegang gadget di siang hari.” Sedetik Paula tersentak, tetapi detik berikutnya dia tersadar itulah suara Tuhan, hikmat yang Tuhan berikan untuk masalah ini. Himawan sang ayah sudah mulai tidak sabar menunggu jawaban Gaby. Tiba-tiba, Paula sang ibu memecah kesenyapan, “Gaby… Kamu sudah bukan anak kecil lagi, ayah dan ibu percaya kamu sekarang sudah mulai dewasa. Karena itu, kami memberikan kamu kesempatan bergaul seluas mungkin dan mengembangkan potensimu, sambil tetap tidak gaptek dan tetap bisa bersosialisasi dengan teman-temanmu lewat medsos. Namun, setiap kepercayaan yang diberikan juga menyangkut pertanggungjawabanmu sebagai seorang anak. Jadi, kalau hari ini kamu minta izin untuk pulang menjelang magrib untuk latihan voli dan padus, silakan, ayah dan ibu mengizinkan… Tetapi, pulang larut sore berarti konsekuensinya tidak ada “jatah” pegang gadget di siang hari. Bagaimana?”

Gaby yang semula tertunduk mulai mengangkat kepalanya, matanya menatap mata ibunya seolah mencari kepastian dan sinyal “minta keringanan” dari tawaran yang barusan diajukan. Sang ibu cepat menangkap momen itu dengan menatap tajam putrinya sambil berkata, “Jadilah dewasa… Kamu bukan anak kecil lagi. Anak kecil hanya menuntut haknya tanpa mengerti alasan dan konsekuensinya…” Kalimat itu dilanjutkan dengan uluran tangan sang ibu menyambut putrinya dalam pelukan. Tangis Gaby pecah… Semua yang tertahan di hatinya seolah tumpah dalam pelukan ibunya… Seketika itu, hatinya pun berubah… Sebelumnya Gaby merasakan ketidakadilan dan hatinya bersikeras menuntut keadilan dari ayah-ibunya, tetapi mendengar apa yang diucapkan ibunya, ada suara di hati kecilnya berkata, “Ibu benar… Aku bukan anak kecil lagi. Anak kecil hanya tahu menuntut hak…” Kesadaran itulah yang membuat tangisnya pecah. Dalam pelukan ibunya, Gaby berkata lirih, “Makasih, Bu…” seiring keyakinannya yang mantap bahwa mereka sekeluarga kini sudah sepakat. Himawan sang ayah menghela nafas lega, menatap istri dan putrinya dengan bahagia. Rasa syukur mengalir di hati mereka masing-masing.

Segera, Himawan berdiri dan merengkuh istri dan putrinya, dan sebuah doa sederhana pun mengalir, “Bapa di surga, terima kasih untuk kasih-Mu yang kami alami pagi ini. Terima kasih untuk hikmat-Mu yang mengalir di antara kami. Setiap aktivitas kami masing-masing hari ini kami serahkan dalam tangan kasih-Mu, aku di kantor, istriku di rumah, dan anakku Gaby di sekolah sepanjang hari ini. Amin…” Kesenyapan yang menegangkan itu berganti dengan kehangatan dan kebahagiaan. Himawan memeluk putrinya, dan terdengar suara lirih dan kecil dari mulut Gaby, “Maafkan Gaby, Ayah… Thank you untuk kepercayaan yang Ayah berikan.”

Efesus 5: 22-23, 25
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.

Efesus 6: 2-4,
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

(Cerita pendek yang disarikan dari sebuah kisah nyata)

Pertanyaan refleksi:
1. Kebenaran apa yang Anda dapatkan sebagai seorang istri dan ibu melalui cerita pendek ini?
2. Berapa sering Anda mendapatkan hikmat saat berada dalam sebuah situasi yang sulit/membingungkan?
3. Berapa sering Anda menyadari bahwa Tuhan ada dalam kehidupan sehari-hari Anda?
4. Berapa sering Anda mendengar suara-Nya dalam keseharian Anda?
5. Apakah Anda yakin bahwa setiap kebenaran dalam Alkitab adalah kebenaran yang nyata dan dapat Anda alami sehari-hari?
6. Buatlah komitmen pribadi bahwa Anda akan terus belajar bertumbuh melibatkan dan mengandalkan Tuhan dalam hal setiap hikmat dan pengertian yang Anda perlukan sehari-hari!

2019-10-17T10:37:23+07:00