///HATI YANG SETIA

HATI YANG SETIA

Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya
Amsal 19:22a

Kesetiaan berarti keteguhan hati, ketaatan, baik dalam persahabatan maupun perhambaan/pelayanan. Kesetiaan sering kali juga berarti kepatuhan. Dalam Perjanjian Baru, kata “setia” memiliki tiga makna yang berbeda dan lebih jelas, yaitu dapat dipercaya; taat menjalankan perintah; dan (orang yang) percaya (menjadi pengikut atau penganut). Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang hamba-hamba-Nya yang setia, yang Dia maksud adalah Dia sedang menantikan orang-orang yang mau percaya dan mengikuti Dia; taat dalam menjalankan amanat-Nya; dan dapat Dia percaya sepenuhnya. Tuhan menginginkan kita untuk terus beriman dan setia kepada-Nya.

Dari pihak kita sebagai orang Kristen, banyak di antara kita memberikan syarat atau ketentuan dalam kesetiaan kita. Seorang istri tidak lagi setia mengasihi suaminya ketika suaminya melakukan perselingkuhan. Seorang suami tidak lagi setia melayani istrinya ketika istrinya mulai bersikap menjengkelkan. Para orang tua tidak lagi setia mengasihi, membimbing, dan mengajar anak-anaknya ketika mereka mulai memberontak dan tidak patuh. Anak-anak tidak lagi setia menghormati orang tuanya ketika mereka melihat orang tuanya mudah marah atau tidak melaksanakan tanggung jawab dengan baik kepada mereka. Para karyawan tidak lagi setia ketika sarana dan prasarana, suasana kantor, dan rekan-rekan kerja tidak sesuai dengan harapannya. Bahkan, tidak sedikit anak-anak Tuhan yang sudah terlibat dalam pelayanan berubah menjadi kurang/tidak setia ketika diperhadapkan dengan suatu kenyataan bahwa hidupnya, keluarganya, bisnisnya, atau bahkan pelayanannya, menghadapi banyak masalah.

Kesetiaan adalah ketekunan
Alkitab Perjanjian Baru mendefinisikan kesetiaan sebagai ketekunan (Roma 12:12). Ini berarti Alkitab mengajarkan bahwa kesetiaan bukanlah reaksi terhadap sebuah hal, melainkan komitmen kita terhadap suatu tanggung jawab yang tetap. Alkitab mengajarkan bahwa walaupun orang lain bersalah atau menyakiti kita, kita tetap harus setia mengasihi mereka. Walaupun orang tua menyakiti, kita tetap harus setia menghormati mereka. Walaupun anak-anak mendukakan hati kita, kita harus tetap setia mengasihi, melindungi, dan mendidik mereka. Walaupun banyak masalah kita hadapi, kita harus tetap setia melayani Tuhan

Ketekunan tidak dapat diubah oleh situasi yang berubah. Demikian pula dengan kesetiaan. Ia hanya berubah jika komitmen kita mulai hilang.

Fondasi kesetiaan adalah iman/percaya
Alkitab Perjanjian Lama tidak pernah memisahkan kesetiaan dengan kredibilitas pribadi, yaitu keyakinan yang kita percayai (Ams. 13:17). Bahasa Ibrani bahkan menggunakan satu kata yang sama untuk menggambarkan makna kesetiaan (faithfulness), iman/kepercayaan (belief), dan kualitas kredibilitas karakter yang bisa dipercaya (trustworthiness). Ini berarti Alkitab juga mengajarkan bahwa sumber kekuatan kita untuk menjadi tetap setia bukan berasal dari situasi-situasi yang kondusif dan menyenangkan, melainkan apa yang kita percayai di dalam diri kita sendiri. Yang membuat kita mampu tetap setia dalam situasi-situasi yang berat dalam hidup adalah iman percaya kita, bukan faktor situasi dari luar.

Hambatan kesetiaan yang perlu ditaklukkan

Pertama, berfokus pada situasi.
Jika kita memfokuskan seluruh perhatian pada suatu hal, lambat laun pikiran, perasaan, dan keputusan-keputusan kita akan dipimpin oleh hal itu. Jika kita memfokuskan seluruh perhatian kita pada situasi luar, misalnya kesalahan seseorang dan rasa sakit yang ditimbulkannya bagi kita, lambat laun pola pikir, pola rasa, dan pola tindakan kita akan dipimpin oleh rasa sakit hati itu. Dalam keadaan seperti itulah, menjadi tekun dan setia mengasihi menjadi tugas yang terlalu sulit. Pikiran, perasaan, dan keputusan-keputusan kita jika dipimpin oleh fokus yang salah dari situasi, akan menjadi hambatan dalam kesetiaan kita.

Kedua, berfokus pada kredibilitas manusia.
Seorang istri yang berselingkuh akan kehilangan kredibilitasnya di mata suaminya. Anak yang tidak patuh dan tidak jujur akan kehilangan kredibilitasnya di mata orang tuanya. Pada saat-saat seperti inilah, menjadi tetap setia mengasihi dan menghormati serta mendidik dalam kasih menjadi sulit, karena kita telanjur berfokus pada kredibilitas manusia.

Cara untuk tetap teguh dalam kesetiaan

Pertama, letakkan janji Tuhan sebagai fondasi kesetiaan.
Hanya Tuhanlah yang mempunyai kredibilitas yang tidak tergoyahkan. Dalam I Tesalonika 5 tertulis bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah dan Ia (pasti) akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya. Itulah sebabnya jika kita sedang mengalami situasi dan pergumulan sulit yang menantang kesetiaan kita, mengingat bahwa Tuhan setia dan akan memenuhi janji-Nya bagi kita akan menjadi fondasi yang kuat untuk kesetiaan kita sendiri.

Kedua, tekunlah dalam latihan-latihan yang diizinkan Tuhan.
Tidak semua orang dan situasi memudahkan untuk kita tetap setia. Pandanglah tantangan dan kesulitan sebagai latihan kesetiaan yang bermanfaat bagi kita. Rasul Paulus pun mengalami banyak tantangan dalam hidupnya, dan ia mengajar murid yang sangat dikasihinya: “Latihan jasmani sedikit saja gunanya, tetapi latihan rohani berguna dalam segala hal, sebab mengandung janji untuk hidup pada masa kini dan masa yang akan datang. Hal itu benar dan patut diterima serta dipercayai sepenuhnya (totally trustworthy). Itulah sebabnya kita berjuang dan bekerja keras, sebab kita berharap sepenuhnya kepada Allah yang hidup; Ialah Penyelamat semua orang, terutama sekali orang-orang yang percaya.” (1 Tim. 4:8-10, BIMK)

Responding tip:
Percayalah pada janji Tuhan dan tekunlah melatih diri kita untuk menjadi setia, maka berkat Tuhan akan melimpah atas hidup kita.

2019-09-27T12:33:38+07:00