///HUTANG MASA LALU

HUTANG MASA LALU

TTM (Teman Tapi Mesra) adalah sesuatu yang jauh dari benakku. Tak pernah aku bayangkan sebelum aku bisa jatuh dalam ‘perselingkuhan’ ini. Tidak ada yang salah dengan hidup dan rumah tanggaku. Aku memiliki suami yang baik dan bertanggung jawab, 8 tahun sudah kami mengarungi biduk pernikahan ini, dan anak-anak yang manis pun hadir mewarnai pernikahan kami. Aku bukan wanita yang hidup tanpa Tuhan, aku mencintai Tuhan sepenuh hati, aku melayaniNya, tak pernah kutinggalkan firmanNya dalam hidupku.”

Suara gelak tawa memenuhi rumah Dina, temanku. Sudah biasa aku dan teman-teman SMA-ku berkumpul setahun sekali untuk reuni dan sekedar melepas kangen. Kami sering bercerita tentang masa lalu, masa remaja yang penuh dengan gejolak dan perilaku yang membangkitkan tawa bila diingat kembali. Namun kali ini, mendadak suara tawa itu menghilang, berganti senyap dan bisik-bisik cerita serius tentang topik perempuan dan akhirnya pembicaraan kami masuk dalam topik perselingkuhan yang marak terjadi akhir-akhir ini. Ah.. aku mulai merasa tidak nyaman mendengarnya.

Sekitar 2 tahun lalu melalui sebuah situs jejaring sosial, aku bertemu dengan seorang teman lama dari masa SMP. Awalnya semua berjalan biasa saja. Kami saling bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Ia, sebut saja Bobi, punya 4 anak, dan dari ceritanya, ia tampaknya mempunyai karir yang cukup sukses.

Puluhan tahun tidak bertemu maka pembicaraan nostalgia itu akhirnya berlanjut…. Dari pembicaraan intens kami di jejaring sosial tersebut, aku kemudian, mulai menerima pesan-pesan singkat dari Bobi. Mula-mula jarang,tapi lama kelamaan makin sering. Sesekali ia menelepon dan kami ngobrol panjang lebar tentang banyak hal. Entah kenapa, kemudian muncul rasa rindu jika ia tak mengirim pesan singkat atau menelepon. Kalau rindu itu sudah tak tertahan, aku berinisiatif mengirimkan pesan singkat. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi.

Bobi bukanlah mantan pacar-ku, ia hanya teman biasa. Tetapi memang saat itu, aku tidak dapat membohongi hatiku. Aku jatuh cinta kepadanya dan kami memiliki kedekatan lebih daripada dengan teman-teman lainnya. Rupanya Bobi merasakan hal yang serupa, hal ini diceritakannya baru-baru ini, sebenarnya saat itu ia ingin menyatakan perasaannya kepadaku tetapi pertemanan kami keburu terputus karena aku harus pindah dan melanjutkan sekolah ke Palembang mengikuti tugas kerja ayahku yang sering berpindah-pindah kota.

Penjelasan Bobi ini rupanya semakin membangkitkan romansa di hatiku, aku merasa ada “hutang” di masa lalu yang perlu aku penuhi. Hutang untuk dicintai dan mencintai. Pikiranku menjadi gelap, aku makin asyik ber-SMS dan bertelepon dengan Bobi. Wajah Bobi pun selalu menghiasi pikiranku setiap saat; ketika sedang memasak, mau tidur, ataupun bangun tidur. Aku jadi suka berkhayal sedang bermesraan dengan Bobi, meskipun saat itu sedang bermesraan dengan suami.
***
Hati nuraniku sebenarnya mulai bergejolak, aku tahu ini tidak benar. Aku tahu ini adalah dosa perselingkuhan. Aku mulai menceritakan tentang perkara ini kepada teman dekatku di komsel. Temanku mendoakanku dan mendorong untuk aku mengakuinya kepada suamiku agar aku terlepas dari jerat ini. Saat itu rasanya ada keberanian untuk aku mengaku kepada suamiku dan terlepas dengan segera.

Namun, ketika aku kembali ke rumah, memandang wajah suamiku, rasanya aku tak tega menyakitinya. Toh, hubungan kami baik-baik saja. Aku mulai berkompromi. Aku pikir, sampai saat ini hal ini tidak mengganggu pernikahanku dan aku tidak berbuat macam-macam. Sebenarnya jauh di dalam hatiku, aku berat melepaskan Bobi. Sekalipun aku tidak pernah melakukan kontak fisik, tapi ikatan emosiku sangat kuat dengannya. Ini yang rasanya sulit dan sayang untuk dilepaskan.

2 tahun sudah aku melakukan perbuatan ini, aku merasa hidupku jadi tak karuan. Hubunganku dengan Tuhan tak lagi seindah dulu. Sekalipun setiap minggu aku rutin ke gereja, bahkan melayani, semua itu tidak dapat mengembalikan damai sejahtera dan sukacita yang telah hilang selama ini. Aku adalah orang Kristen yang sesungguhnya hidup dalam kemunafikan…

2 bulan lalu tepat di hari kemerdekaan RI, dalam perenunganku, Tuhan mengingatkanku tentang kata “merdeka”. Ya, aku harus merdeka yang sesungguhnya. Kurenungkan berulang-ulang firmanNya yang berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17). “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal. 2:20). Aku mulai mengambil langkah iman. Aku menghampiri suamiku dan kuceritakan perbuatanku selama ini kepadanya. Seperti sudah kuduga, ekspresi wajahnya bercampur antara kecewa, marah dan tidak habis pikir mengapa aku bisa melakukan hal seperti itu. Namun, reaksi berikutnya tidak pernah kuduga… Ia mengampuniku dan kemudian mendoakanku. Setelah itu aku sungguh merasakan kebebasan itu! Semua rantai yang memberatkan di hati dan hidupku selama 2 tahun ini sekarang terlepas dan aku dapat merentangkan kedua tanganku dan merasakan hatiku ringan, dan bebas, sebebas-bebasnya. Itulah kemerdekaan hidup sebagai orang benar yang sesungguhnya. Sukacita dan damai sejahtera yang telah lama hilang, kembali masuk dalam kehidupanku. Dan aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Aku telah merdeka. Oleh kematian dan kebangkitan Kristus, aku telah merdeka!
***

Kisah ini memang fiktif, tetapi bukan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan kita, karena tidak ada satu pun di antara kita yang kebal terhadap dosa. Masalahnya, ketika dosa mulai mengintip di pintu hati kita, apakah kita memiliki kebenaran untuk mengalahkannya. Berdiri di atas kebenaran bukanlah hal yang mudah, jika kita tidak memiliki dan menghidupi kebenaran itu sendiri.

Alkitab mencatat seorang wanita yang bersedia membayar harga dengan hidupnya, dengan nyawanya sendiri, demi kebenaran dan kemerdekaan bangsanya. Keteladanan Ester terlihat dari pernyataan imannya saat dia berkata: “…kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” (Est. 4:16). Oleh karena keberaniannya, dosa dikalahkan dan satu bangsa diselamatkan. Demikian pula, kisah fiktif di atas menunjukkan bahwa ketika kita bertemu dengan kebenaran dan menghidupi kebenaran itu, dosa dikalahkan dan kemerdekaan menjadi nyata. Wanita itu bukan saja menyelamatkan dirinya dari dosa dan kebinasaan, ia menyelamatkan suami dan seisi rumahnya dari kehancuran akibat dosa. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda berani menghidupi kebenaran yang Anda terima? Ambillah tantangan ini dan Anda akan menerima berkat kemerdekaanNya. (cc)

2019-10-29T11:05:23+07:00