///Inside every woman

Inside every woman

Apa yang membuat wanita begitu menarik untuk dipelajari? Jawabannya adalah karena apa yang dilakukannya sehari-hari. Jika kita renungkan, sesungguhnya ada suatu kemampuan yang dimiliki dan dipraktikkan oleh setiap wanita dalam keseharian hidupnya, namun kadang tidak terpikirkan oleh wanita itu sendiri. Apa itu? Dalam kesehariannya, wanita jarang menyadari kekuatan pengaruhnya. Ya, kekuatan pengaruh inilah kemampuan yang seolah secara khusus telah di-install oleh Tuhan ke dalam diri setiap wanita. Hal sederhana yang dilakukan oleh 2 orang wanita di toko buku itu adalah bukti betapa kekuatan pengaruh seorang wanita begitu besar. Tentu saja, kekuatan pengaruh ini paling dirasakan oleh orang-orang terdekat dalam hidup si wanita, misalnya keluarganya (orangtua, suami/anak), kemudian baru menyebar ke komunitasnya dan lingkungannya yang lebih luas.

Kekuatan pengaruh seorang wanita dibentuk juga oleh pertumbuhan rohani dan kedewasaan karakternya. Pola asuh yang diterima dan peristiwa-peristiwa traumatis yang dialami dalam perjalanan hidup membentuk kedewasaan seorang wanita, dan terlihat dari pikiran, kehendak dan emosinya. Ada banyak wanita yang secara umur terus bertambah dewasa, tetapi tidak secara pikiran, kehendak dan emosinya. Itu sebabnya, tidak jarang kita menemukan wanita yang (dengan atau tanpa disadarinya) menebarkan pengaruh negatif bagi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Padahal secara umur, ia bisa diharapkan untuk berespon dan bertindak lebih bijaksana. Peristiwa yang saya lihat di toko buku sore itu menarik untuk diperhatikan, karena yang mendoakan wanita tua itu adalah wanita yang lebih muda, dan wanita tua itu terlihat sangat menghargai saat didoakan. Wajah bahagianya menyiratkan rasa terimakasih dan penghargaan terhadap wanita yang mendoakan itu, sekalipun secara usia wanita itu lebih muda daripada dirinya. Apa yang saya pelajari dari peristiwa ini? Ternyata, kekuatan pengaruh wanita tidak ditentukan oleh usia, tetapi oleh kedewasaan wanita itu sendiri.

Berbicara soal kekuatan pengaruh wanita, Alkitab mencatat beberapa tokoh yang kita bisa pelajari, sebut saja salah satunya, Izebel – wanita yang kata-katanya mampu membuat seorang nabi sekelas Elia bergidik. Betapa hebatnya perempuan ini, kekuatan pengaruh yang dimilikinya membuat Elia merasa yakin bahwa Izebel bersungguh-sungguh akan melaksanakan ancamannya. Laki-laki yang dapat dengan tenang menghadapi Raja Ahab beserta 450 nabi Baal, kini kehilangan seluruh keberaniannya. Ia melarikan diri ke padang gurun, meringkuk di bawah sebuah pohon sambil berharap kematian segera datang menjemputnya (1 Raja-raja 19:1-4). Bagaikan 2 sisi mata uang, kekuatan pengaruh wanita bisa menjadi hal yang baik dan buruk sekaligus. Namun, bagaimana seorang wanita bertumbuh dalam kekuatan pengaruh yang baik, tentunya tergantung dari apa yang paling mempengaruhi hidupnya sendiri.

Mengapa seorang wanita perlu belajar terus bertumbuh dan menjadi dewasa di dalam pikiran, kehendak dan emosinya? Karena, Allah menetapkan wanita menjadi penolong. Seorang wanita yang dewasa akan maksimal dalam peran dan fungsinya sebagai penolong. Sebagai wanita Allah yang dewasa, ia akan menyadari bahwa peran dan fungsinya sebagai penolong menjadi maksimal saat dia bersedia menjadi “ibu” bagi wanita lain.

Menjadi seorang ibu secara jasmani adalah sebuah keindahan tersendiri namun menjadi seorang ibu rohani adalah pilihan yang mulia. Peran ibu dalam pertumbuhan dan kedewasaan anak sangatlah besar, khususnya kepada anak perempuan. Ibu secara jasmani sejatinya adalah ibu rohani bagi sang anak jasmani juga. Sedangkan ibu rohani dapat menjadi ibu rohani untuk wanita lain, sekalipun ia bukanlah anak jasmaninya. Hal ini sangat dimungkinkan untuk terjadi dalam lingkungan sebuah gereja lokal. Namun demikian, tidak banyak wanita (terutama di gereja) yang menyadari, memikirkan, dan mengambil bagian di dalam proses menjadi ibu rohani ini. Saat sebuah pertanyaan sederhana diajukan, “Siapa ibu rohanimu..?” ternyata pertanyaan ini begitu sulit dijawab. Mungkin lebih mudah menyebutkan sebuah nama bapak rohani daripada nama ibu rohani, meskipun umumnya jumlah wanita di gereja jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pria.

Keberadaan ibu-ibu rohani di sebuah gereja lokal menandakan bahwa di situ ada wanita-wanita dewasa yang menyadari peran dan fungsinya, dan mengambil bagian dalam menolong wanita-wanita lain bertumbuh. Seorang wanita yang saya temui di gereja pernah berkata, ”Saya tidak tertarik dan tidak suka disebut sebagai ‘wanita yang berohani’ tapi setelah saya memiliki dan dimuridkan seorang ibu rohani, saya jadi menyadari dan bersyukur bahwa saya bisa bertumbuh menjadi seorang wanita yang beribadah dan itu artinya saya dapat menjadi seorang ibu rohani bagi wanita yang lain.” Ini adalah fakta dan termasuk pernyataan langka yang menunjukkan bahwa setiap wanita dapat bertumbuh serta belajar untuk menjadi ibu rohani bagi wanita lain saat ada wanita lain yang bersedia menjadi ibu rohani baginya; seperti yang tercatat dalam kitab Titus 2:3-7, “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.”

Menjadi seorang ibu rohani belum menjadi perkara yang diminati dan diperhatikan oleh kalangan wanita di dalam lingkup gereja, padahal peranan ibu rohani itu adalah hal yang sangat alkitabiah. Mengapa demikian? Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebabnya:

1. Tidak adanya gambaran/sosok ibu rohani

2. Ekspektasi yang tinggi tentang gambaran seorang ibu rohani

3. Kekecewaan terhadap wanita yang diharapkan menjadi teladan dan panutan

4. Perasaan bahwa diri sendiri tidak perlu memiliki seorang ibu rohani

 

Sejatinya, setiap wanita sebagai murid Kristus bertumbuh dalam kerohaniannya dan berperan sebagai ibu rohani bagi wanita lain yang lebih muda (secara usia ataupun secara kedewasaan). Bagaimana agar hal ini dapat terwujud? Mulailah dari diri kita sendiri! Sadarilah bahwa:

* Setiap wanita pada dasarnya diberi Tuhan kemampuan untuk menjadi penolong bagi orang lain, termasuk wanita lain.

* Peran ibu rohani sangatlah dibutuhkan dalam satu jemaat lokal

* Menjadi seorang ibu rohani selalu dimulai dari menjadi anak rohani

* Seorang ibu rohani sejatinya memiliki kedewasaan dalam hal rohani dan karakter

* Seorang ibu rohani tidak harus memiliki jabatan, tetapi pasti pengaruh

Seperti halnya menjadi seorang ibu secara jasmani dengan segala sukacita dan tantangannya, begitu juga menjadi ibu rohani memiliki sukacita dan tantangannya sendiri. Sukacita seorang ibu rohani sebenarnya sungguh besar dan tidak ternilai, yaitu dapat memultiplikasikan kualitas hidupnya, memberikan akuntabilitas hidupnya kepada wanita lain dan tentunya menjadi teladan bagi wanita yang dimuridkannya. (/aa)

2019-10-17T16:26:11+07:00