///Kado untuk Tuhan

Kado untuk Tuhan

Siang itu saya menerima pesan melalui BBM. Berita sukacita dari seorang wanita yang baru mengalami betapa berartinya menjadi seorang ibu rohani untuk wanita lain yang baru dikenalnya. Berikut kira-kira isi BBM-nya (*):

Ibu A, saya mau cerita bagaimana saya merasakan sukacita menjadi ibu rohani bagi anak rohani, khususnya dalam hal dia menerima berkat jasmani. Tuhan menunjukkan kepada saya seorang anak perempuan yang ternyata punya masalah yang serupa dengan saya, yaitu mata dengan ukuran minus sangat tinggi dan beresiko fatal sehingga harus dioperasi. Biaya untuk operasi itu sangat besar. Saya berdoa karena saya seolah merasakan Tuhan menaruh anak ini di “rahim hati” saya. Sejak Tuhan tunjukkan secara khusus, saya mulai memperhatikan anak ini, dan saya merasa seperti sedang “melahirkan” seorang anak. Saya belajar setia dan taat pada apa yang Tuhan taruh di hati saya, kemudian mulai melangkah dengan iman. Saya berkenalan, lalu mulai mendoakan anak ini dan saya bertanya tentang matanya. Saya menguatkan dia dan mengajaknya sepakat berdoa agar Tuhan menyediakan jumlah dana yang dibutuhkan untuk biaya operasi matanya. Saya mengikuti setiap proses yang Tuhan kerjakan dan saya bersyukur banyak belajar melaluinya. Saya sendiri semakin dipulihkan sebagai seorang wanita dan belajar bertumbuh menjadi ibu rohani bagi wanita lain. Ternyata saya mendapati iman saya bertumbuh, saya sangat bersukacita!

Ibu A, saat hati saya taat dan percaya pada apa yang Tuhan taruhkan, ternyata mujizat menyertainya. Apa yang tidak pernah saya bayangkan terjadi, yaitu Tuhan mengubah hati saya, bukan hanya untuk menolong kebutuhan anak ini, melainkan juga untuk mengasihinya dengan sepenuh hati. Saya doakan dia, saya ajak dia ke salon untuk memperbaiki penampilannya. Sebelumnya, ia tidak pernah peduli dengan penampilannya sebagai perempuan, dan sikap maupun perilakunya dingin. Tetapi ketika hatinya berubah, apa yang tampak di tampilan luar pun berubah. Ia menjadi anak perempuan yang cantik luar dalam. Saya dapat melihat kasih Tuhan memeliharanya, dan sungguh betapa berharganya seorang wanita di mata Tuhan! Oh ya, hati saya sendiri pun berubah. Saya jadi semakin mensyukuri keberadaan saya sebagai perempuan dan saya dapat menjadi ibu bagi wanita lain.

Ibu A, saya juga mengajak seorang ibu lain untuk terlibat dalam proyek iman ini dan kami bertiga sama-sama mengalami perubahan. Tuhan memakai banyak cara untuk memberkati anak-anakNya, termasuk untuk memberkati anak ini. Melalui dokter dan juga saudara-saudara seiman yang terbeban untuk menolong, akhirnya seluruh biaya operasi tercukupi. Bukan hanya itu, bahkan ada kelebihan dana yang dapat dipakai untuk biaya cek/kontrol pasca operasi…

 

Penggalan pesan BBM itu membuat saya tercenung. Betapa Tuhan itu begitu nyata melalui berbagai karyaNya dalam hidup kita sehari-hari. Saya percaya semua itu bisa terjadi dimulai dari kita menjadikan Dia sebagai pusat hidup kita dan kita setia pada kehendakNya yang Ia taruh dalam hidup kita. Penting sekali untuk kita sadari bahwa jika kita memiliki Tuhan, maka kita memiliki segala sesuatu. Sebaliknya, sekalipun kita memiliki segala sesuatu tanpa memiliki Tuhan, maka sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa. Segala sesuatu menjadi tidak berarti tanpa Tuhan. Bahkan hidup kita adalah milikNya!

Sebagai seorang wanita, istri dan ibu dengan begitu banyak tanggung jawab yang harus dikerjakan, tentunya tidak mudah bagi kita untuk menjalani hari-hari dengan tetap berfokus pada kehendakNya. Kadang semuanya seolah larut dalam kesibukan kegiatan dan tugas serta peran kita sehari-hari, tetapi Tuhan tidak pernah lalai menepati janjiNya. Ia sudah berkata bahwa Ia hidup di dalam kita dan hidup kita adalah untuk Dia. Bagian kita adalah mempercayai dan taat.

Galatia 2:20 – “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yanghidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Bagaimana janji dan perkataan Tuhan ini dapat terjadi? Sebenarnya sederhana, namun kita seringkali tidak menyadarinya. Setelah menjadikan Dia pusat hidup kita, kita perlu dan pasti mengalami suatu kesadaran tentang betapa berharganya hidup kita dan bahwa kita berharga hanya karena Tuhan. Keberhargaan yang seperti apa ini? Pertama, kita berharga karena kita diciptakan utuh di dalam Kristus. Ia sepenuh-penuhnya ada di dalam kita.

Kolose 2:9-10 – “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.”

Kedua, kita berharga karena Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan hakekat yang sama, walaupun peran dan fungsinya berbeda. Mandat Tuhan untuk peran dan fungsi wanita adalah menjadi seorang penolong dan Tuhan memberikan kemampuan itu dalam diri setiap wanita. Menjadi penolong bukan hanya untuk suami dan anak-anak atau keluarga, namun juga untuk wanita-wanita lain, seperti apa yang dialami oleh ibu pengirim pesan BBM tadi. Memiliki rasa berharga yang sejati berdasarkan kedua kebenaran ini memberikan dorongan dan kerinduan untuk berfungsi dengan benar, sehingga hidup kita menghasilkan teladan hidup yang benar. Ini tentunya akan sangat menyenangkan hati Tuhan.

Di penghujung tahun ini, kita dapat menyiapkan hati dan memberikan kado untuk Tuhan. Jadikan Dia pusat hidup kita, jadikan Dia segala-galanya dalam hidup kita, sehingga kita menyadari keberhargaan kita dan kita dapat berfungsi melakukan kehendakNya bagi kita. Inilah kado yang dapat kita berikan dengan sukacita untuk Tuhan: melakukan kehendakNya, menggenapi panggilanNya. Semua dimulai dari menjadikan Dia sebagai pusat hidup kita. Atau dengan kata lain, panggilan Tuhan atas hidup kita hanya dapat tergenapi jika KRISTUS MENJADI PUSAT HIDUP KITA. (/aa)
*) Ilustrasi diangkat dari kisah nyata atas seijin nara sumber

2019-10-29T10:20:06+07:00