///Keberanian & Kebijaksanaan Rahab

Keberanian & Kebijaksanaan Rahab

Rumahnya tak pernah sepi dari pengunjung. Pekerjaannya melayani orang yang datang mengunjungi rumahnya. Ia bukan warga kota “biasa’, karena orang mengenalnya sebagai perempuan sundal (=”harlot” = pelacur). Rumahnya terletak dekat dengan tembok kota, hingga ia dapat melihat pemandangan di luar kota melalui jendela rumahnya. Lokasi ini menjadikan rumahnya tempat pertama yang disinggahi orang yang datang berkunjung ke kota itu. Rumahnya juga menjadi tempat pertama yang akan diperiksa oleh para pengawal kota untuk mengawasi orang asing masuk. Siapakah dia? Namanya Rahab, dan ia adalah wanita yang berani sekaligus bijaksana, meskipun statusnya bukanlah “wanita baik-baik”. Mari kita berkenalan lebih dekat dengannya melalui beberapa hal yang ia alami.

Kali ini, bukan tamu biasa yang datang ke rumahnya.
Ada satu perasaan yang berbeda di hati Rahab; kali ini tamu yang datang bukanlah tamu biasa, mereka lebih tepat disebut sebagai “utusan” daripada tamu. Ia telah banyak mendengar akan Allah orang Israel, hal ini telah seringkali membuat batinnya berperang, tetapi pikirannya terus bekerja, tindakan apa yang harus dilakukannya terhadap dua orang ini. Ia memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul, namun ia tahu ia harus mengambil keputusan yang tepat dengan berani. Akhirnya ia memutuskan untuk menyembunyikan kedua orang itu di bawah timbunan batang rami yang ditebarkan di atas sotoh rumahnya.

Ia menghadapi resiko besar.
Raja Yerikho memerintahkan para pengawal untuk memeriksa rumah Rahab dan agar Rahab membawa keluar orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata asing itu. Dengan berani, Rahab justru mengatakan bahwa memang ada orang-orang yang datang ke rumahnya, tetapi ia tidak tahu darimana mereka itu dan menjelang malam orang-orang itu keluar. Akhirnya, pergilah orang-orang suruhan raja Yerikho itu, berusaha mengejar dua orang Israel itu ke arah Sungai Yordan menuju tempat-tempat penyeberangan dan ditutuplah pintu gerbang segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar. Rahab pun kemudian naik ke tempat persembunyian kedua tamunya, dan apa yang dikatakannya kepada mereka menjadi hal yang menarik untuk kita perhatikan, “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.”

Ia hanya mendengar, namun di hatinya lahir iman yang besar.
Dari perkataannya kepada dua utusan Israel tadi, kita melihat bahwa pengertian dan pemahamannya terhadap Tuhan Allah hanya berasal dari apa yang didengarnya, namun ia memiliki keteguhan iman untuk mempercayai apa yang didengarnya. Benih iman ini membuatnya berani mengambil resiko untuk menyembunyikan kedua orang Israel tersebut. Sekalipun ia seorang perempuan sundal, tetapi jauh di lubuk hatinya ia merindukan kemerdekaan yang sesungguhnya dan harapan itu seolah datang di hadapannya dalam bentuk dua orang tamu istimewa itu.

Keberaniannya diikuti dengan kecerdikan dan kebijaksanaan.
Tentunya menolong 2 orang pengintai dengan segala resikonya patut menerima upah yang sepadan. Rahab si perempuan sundal ini tidak hanya memikirkan dirinya sendiri; kerinduan dari hati kecilnya untuk sebuah kemerdekaan jiwa tidak menutup hatinya terhadap keselamatan seluruh keluarganya. Maka disepakatilah bersama bahwa jika Tuhan memberikan Kota Yerikho untuk direbut oleh orang-orang Israel, maka perempuan sundal itu dan seluruh orang yang ada di dalam rumahnya akan diluputkan dari pemusnahan melalui tanda tali dari benang kirmizi yang diikatkan pada jendela rumahnya, tempat dia menurunkan mereka.

Sukacita ketika hari-Nya tiba.
Yosua menepati janjinya dengan membawa keluar perempuan itu dan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, bahkan seluruh kaumnya. Mereka semua dibawa keluar dan diberikan tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel. Maka tinggallah Rahab, perempuan sundal, orang Kanaan itu beserta keluarganya di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang.

Predikat perempuan sundal.
Status sebagai perempuan sundal merupakan gambaran bahwa Rahab hanyalah perempuan biasa, tetapi ternyata catatan hidupnya berubah menjadi luar biasa; ia merupakan salah seorang wanita yang masuk dalam daftar nenek moyang Yesus Kristus sang Mesias, Juru selamat dunia (Mat. 1:5) dan saksi iman untuk kita yang hidup saat ini (Ibr. 11:31). Di sini kita dapat melihat, masa lalu dan kegagalan kita tidak lagi menentukan keberhargaan kita. Saat Tuhan menjadi pusat hidup kita, kita menjadi berharga hanya karena Dia. Kebenaran hanya ada di dalam kebenaran. Apapun yang tertulis di Alkitab adalah kebenaran; Alkitab sangat gamblang dan jujur menyatakan bahwa kelemahan dan masa lalu kita bukanlah penghalang untuk mengalami kemerdekaan dalam kebenaran. Selama kita percaya dan melakukan kebenaran yang kita dengar, maka kita akan mengalami pertumbuhan iman dalam pengenalan akan Tuhan secara pribadi. (/aa)

Pertanyaan aplikasi :
1. Sudahkah Anda membaca Alkitab setiap hari?
2. Sudahkah Anda membaca seluruh Alkitab? Berapa kali?
3. Berapa banyak Firman Tuhan yang engkau baca/dengar yang telah mengubah hidupmu?
4. Apa kesaksian orang lain mengenai hidupmu?

(Cerita ilustrasi dikutip berdasarkan Yosua 2:1-24 dan 6:17-25, Matius 1:5, Ibrani 11:31, serta Yakobus 2:25)

2019-10-17T16:50:34+07:00