///Keindahan di dalam penderitaan

Keindahan di dalam penderitaan

Si Mbak cuci gosok sudah pulkam, jadi hari ini aku mulai “dinas”… Setiap kali si mbak pulang, cuci baju, masak, dan setrika menjadi bagianku. Pagi ini, dengan semangat ’45 aku menunaikan tugas mulia… Sebelum jam 9:00 cucian sudah harus beres, karena jadwalku yang berikutnya adalah pemuridan.

Nah, selesai sudah cucian dikeringkan pakai mesin cuci, sekarang waktunya dijemur. Tapi, siapa sangka, waktu aku menaruh ember kembali ke tempatnya, tiba-tiba, “Syuuuut…. gubraaakk!!!” Ember mental dan kudengar bunyi “krek!” Pergelangan tangan kiriku! Detik berikutnya kulihat tangan kiriku sudah lemas… Lalu aku tersadar: tanganku patah! Karena langsung terasa perih, ngilu, dan tampilannya membengkak, jadwal pemuridan pun kubatalkan. Aku langsung menuju IGD rumah sakit terdekat. Pagi itu sampai menjelang sore kuhabiskan di ruang IGD untuk rontgen dan beberapa tindakan medis. Akhirnya, aku pulang ke rumah dengan gips dan “gendongan” di tangan kiri. Dokter bilang tanganku boleh saja untuk sementara digips dulu, lalu sepulang liburan baru dicek lagi untuk dioperasi supaya hasilnya lebih maksimal. Memang, besok sudah dijadwalkan untuk kami sekeluarga berangkat berlibur. Hmm… liburan kali ini pasti bakal sangat berkesan.

10 Juni

Pagi hari ini saat terbangun, tanganku terasa nyeri. Kutanya Tuhan, “Apa yang Engkau mau untuk aku belajar?” Kutunggu Dia menjawab tanyaku, dan satu lagu muncul di hatiku. Saat kunyanyikan, aku tahu, itulah jawaban doaku.

Apa pun yang terjadi di dalam hidupku,
s’lalu ku berkata “Tuhan Yesus baik”
Dalam segala hal yang terjadi,
Tetap ku berkata “Tuhan Yesus baik”

Kusembah Kau, kusembah Kau
Tak dapat ku membalas kasih-MU
Kusembah Kau, kusembah Kau, Bapa ….
Ku ingin slalu menyenangkan-MU

Suara empuk Ir. Niko yang menyanyi bersamaku itu serasa mewakili keputusan hatiku: “Tuhan baik, apa pun yang terjadi…”

10-20 Juni: Liburan

Aku menikmati liburan yang penuh anugerah. Lagu yang Tuhan ingatkan itu sudah jadi bekal kekuatanku untuk menikmati liburan dengan cara yang berbeda. Tuhan menunjukkan banyak keindahan di sepanjang liburan ini: di bagian imigrasi aku diperlakukan dengan lebih pengertian, di kendaraan umum selalu ada yang memberikan tempat duduk buatku, dan banyak lagi. Suami dan anakku benar-benar hadiah dan cermin kemurahan Allah bagiku; mereka sangat pengertian dan selalu siap menolongku dalam hal-hal kecil yang tadinya bisa dengan mudah kulakukan sendiri tapi sekarang jadi sulit.

Aku sendiri belajar lebih lagi merasakan kasih setia Tuhan lewat “penderitaan” ini. Sekarang aku tahu, kenapa dan bagaimana Raja Daud bisa “mengecap” kebaikan Tuhan…

Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
(Mazmur 34:9)

Mengecap itu bukan sekadar makan, tapi bisa menikmati dan merasakan apa yang dimakan; bukan sekadar merasakan, tapi setiap rasa itu bisa dinikmati.

Aku juga belajar merendahkan hati. Biasanya aku melakukan banyak hal sendiri tapi sekarang banyak bergantung pada pertolongan orang lain untuk hal-hal kecil sehari-hari, seperti mandi, membuka termos minuman, menarik selimut, mengikat rambut, cuci piring, memasak, membuka retsleting tas, dll.

21 Juni
Entah kenapa Tuhan izinkan aku mengalami ini di saat musim libur nasional yang cukup panjang… Para dokter juga kebanyakan masih cuti. Tuhan rupanya mengajar aku bersabar…

25 Juni
Akhirnya, hari ini aku bertemu dokter bedah tulang. Setelah mendapat banyak penjelasan dan beberapa pertimbangan, aku bersama suami sepakat untuk dilakukan operasi supaya hasilnya lebih maksimal. Wah, kalau perjalanan dengan pesawat dan aku harus melewati detector keamanan, jadinya alarm detektor bakal berbunyi, nih… Aku akan jadi “iron lady”, hahaha….
Sundari membaca ulang buku hariannya. Kalimat demi kalimat seolah hidup kembali di benaknya. Hari ini tepat setahun yang lalu dia mengalami semua yang tertulis di buku harian itu. “Cepat sekali waktu berlalu!” Sundari membatin dalam hatinya. Betapa kasih setia dan kemurahan Tuhan semakin terasa dalam hidupnya. Tuhan membuktikan kasih-Nya yang begitu besar lewat pertolongan suami dan anaknya selama masa-masa sulit penuh keterbatasan beraktivitas hanya dengan satu tangan. Tuhan juga menunjukkan bagaimana janji pernikahannya bersama suami terwujud nyata: mengasihi dalam keadaan sakit dan sehat, susah dan senang, kaya dan miskin, dan dalam keadaan apa pun juga…

Sambil menutup buku harian, Sundari tersenyum sendiri. Memang penderitaan terasa berbeda kalau dilewati bersama dengan Tuhan. Selalu ada keindahan-Nya, di dalam penderitaan sekalipun. Bagai bisikan, ayat Firman Tuhan pun muncul di hati Sundari, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:10-12)

Mendekap erat buku harian Sundari memejamkan mata dan merajut sebuah doa dari hatinya yang terdalam, “Allah, Bapa-ku… Betapa indah kasih dan rancangan-Mu dalam hidupku. Terima kasih untuk setiap penderitaan yang Kau izinkan terjadi dalam hidupku, karena di dalamnya aku dapat melihat keindahan-Mu. Betul… kebanggaanku adalah kesukaran dan penderitaan, dan kebanggaan itu hanyalah karena ada Engkau di dalam aku selama melewatinya.”

 

Pertanyaan refleksi:
1. Kapan terakhir kali Anda mengalami penderitaan?
2. Bagaimana respons hati Anda terhadap penderitaan itu?
3. Apa yang Tuhan ajarkan kepada Anda melalui penderitaan itu?
4. Pribadi atau sifat Allah yang bagaimanakah yang Anda kenali lewat penderitaan itu?

 

2019-10-11T11:22:16+07:00