///Kekuatan Wanita

Kekuatan Wanita

Demikian pula, tidak sedikit wanita terpedaya oleh kemampuan diri dalam mengendalikan sesuatu. Itu sebabnya, wanita senang mengatur jadwal rutinitas sehari-hari, mengatur menu makanan yang akan disediakan setiap harinya, mengatur pengeluaran setiap bulan, mengatur pakaian yang harus dikenakan, bahkan tanpa sadar ia mengatur setiap tindakan yang harus dilakukan oleh orang-orang terdekatnya, termasuk suami dan anak-anaknya. Wanita seperti ini sering kali disebut sebagai “wanita super”, mampu membuat seluruh anggota mengalir mengikuti arus “aturan” yang telah dibuatnya, tetapi ia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Sayangnya, Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya sama seperti kota yang roboh temboknya (Amsal 25:28).

Wanita yang memilih untuk menggunakan kekuatan posisi/kedudukan yang dimilikinya untuk mengendalikan situasi atau orang lain di sekitarnya merupakan wanita yang mengandalkan kekuatannya sendiri. Ini berarti, tanpa sadar, ia tidak mengizinkan Tuhan untuk berkuasa atas dirinya. Ia memilih untuk menjadi “bos” bagi dirinya sendiri (dan bagi situasi serta bagi semua orang). Dengan menggunakan kekuatan ini, ia menghancurkan tujuan yang Tuhan ciptakan untuknya, yaitu menjadi penolong. Tanpa pengendalian diri, dia telah menjadikan dirinya target setan. Hidupnya menjadi landasan untuk meluapnya rasa frustrasi, amarah, ketidakpuasan, ketidakpercayaan, dan banyak bentuk problem emosi lainnya.

Berbeda dengan “wanita super” tadi, wanita yang memilih menggunakan kekuatan pengaruh akan selalu membawa kedamaian dan perspektif yang tepat di mana pun ia berada, karena ia memiliki kemampuan pengendalian diri. Ia tunduk pada tuntunan Tuhan, memiliki hati yang siap melayani, sehingga dapat berkata-kata pada waktu yang tepat dan sikapnya selalu mendatangkan kasih karunia kepada siapa pun yang ditemuinya. Di dalam Alkitab, Debora adalah contoh yang sangat tepat menggambarkan wanita seperti ini.

Debora adalah seorang wanita yang dipilih Tuhan untuk menjadi hakim atas bangsa Israel. Ia adalah satu-satunya wanita yang menjadi hakim di antara kedua belas hakim lainnya yang memerintah pada masa antara kepemimpinan Yosua dan Samuel. Tanggung jawab yang diemban Debora merupakan “tanggung jawab seorang laki-laki” dan ia menyadari sepenuhnya bahwa kedudukan/posisi yang dimilikinya saat itu merupakan pemberian Allah. Ia tidak bertindak dengan sewenang-wenang. Debora mengendalikan dirinya dan mengikuti tuntunan Allah. Ia tidak kecewa ketika ternyata bukan dirinya yang dipilih untuk berperang melawan tentara Sisera (Hak. 4).

Sekalipun Debora memiliki kesempatan untuk menggunakan kekuatan posisinya, ia tidak menggunakannya, ia menempatkan diri di bawah pimpinan Allah. Ia menjalankan kepemimpinannya dengan menggunakan kekuatan pengaruh, yaitu memberi semangat kepada orang lain, "Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu." Dengan kekuatan pengaruh, Debora mampu berkata-kata dengan tepat dan sikapnya mendatangkan kasih karunia kepada Barak. Hasil akhir dari kepemimpinannya adalah berkat, yaitu Israel kembali memperoleh kemenangan atas negerinya.

Seorang wanita yang mampu menggunakan kekuatan pengaruhnya adalah wanita yang mampu mempertahankan kendali atas pikiran, hati, dan perkataannya. Ia menikmati tuntunan Tuhan di dalam hidupnya; ia senantiasa bersukacita dan memiliki hati yang mau melayani. Hari ini, tentukan pilihan Anda; kekuatan manakah yang akan digunakan dalam hidup Anda sehari-hari. Pilihlah yang mendatangkan kasih karunia dan berdampak kekal.

Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah Anda terbiasa meminta tuntunan Roh Kudus dalam menjalani hidup Anda sehari-hari?
2. Apakah Anda mudah menerima nasihat dari orang lain tanpa terburu-buru membela diri?
3. Apakah Anda dapat mengekang diri untuk dapat mengungkapkan sesuatu pada waktu yang tepat?
4. Apakah Anda mudah menemukan hal-hal yang positif dalam diri orang-orang terdekat Anda?
5. Apakah Anda semakin menjadi pribadi yang dapat dipercaya oleh orang-orang di sekitar Anda?

2019-10-11T11:23:24+07:00