///Melihat ibuku, melihat hatiku, melihat Tuhan

Melihat ibuku, melihat hatiku, melihat Tuhan

Sambil menahan tangis haru di hatinya, Kayla menyadari bahwa dalam tiga tahun belakangan ini begitu banyak hal yang memudarkan kebanggaannya pada figur sang ibu.  Dulu Kayla mengenal Ibu sebagai perempuan yang kuat, setia, pejuang, kreatif dan selalu menjadi andalan keluarga. Seingatnya, Ibu tidak pernah absen datang menggantikan Ayah untuk bertemu dengan guru Kayla dan mengambil rapor di sekolah setiap kenaikan kelas.  Ibu pun bukan hanya pandai memasak, tapi juga terampil menjahit baju, taplak meja, gorden bahkan sprei di rumah.  Bahkan, Ibu juga yang memberikan ide untuk membuatkan taplak meja dari kain polos untuk tanda tangan teman-teman Kayla saat lulus SMU dulu dan setelah itu mengajarinya menyulam setiap tanda tangan itu dengan tusuk mawar; sehingga tidak perlu “merusak” baju dengan corat coret tanda tangan teman-temannya.  Ide cemerlang ini mendapat banyak kata salut dari teman-temannya.  Taplak unik itu menjadi kenangan terindah Kayla tentang masa SMU-nya, dan semua itu berkat kreativitas sang ibu.

Kayla selalu melihat ibunya sebagai perempuan yang kuat.  Bagaimana tidak, seorang istri prajurit dengan 5 orang anak memang harus siap untuk ikut saat suami ditempatkan di manapun dan dalam keadaan apapun. Ibu juga seorang istri yang setia dan kental menghidupi falsafah Jawa, bahwa istri adalah “konco wingking” (red: “teman di belakang”), walaupun sikap ini kadang menimbulkan penolakan di hatinya sebagai anak yang dibesarkan di zaman yang berbeda. Garis tipis di antara kesetiaan dan kebodohan menjadi perang tersendiri di batinnya dalam hal ini.

Belum lagi, soal memasak. Rasanya tidak ada masakan Ibu yang tidak enak.  Meski Kayla kecil selalu ingin membantu ibunya memasak di dapur, sang ibu selalu melarangnya dengan kata-kata, “Kamu nanti makan saja masakan Ibu, tidak usah repot di dapur karena di sini banyak barang yang berbahaya untuk anak kecil…” Memang, maksud Ibu baik, karena di dapur ada pisau, parutan, dan kompor yang dapat membahayakannya, tapi sejujurnya Kayla sering sedih saat ibunya berkata demikian. Akhirnya, dia hanya bisa melihat dan memperhatikan apa yang ibunya lakukan di dapur. Pikirannya mencatat baik-baik setiap masakan yang diolah sang ibu: gudeg, sambal goreng, oseng-oseng, urap, pecel, garang asem, macaroni schotel, dan banyak menu yang lain. Kelak, catatan di pikirannya itulah yang menjadi bekalnya untuk bisa memasak setelah menikah.

Namun Kayla teringat, semua kebanggaan itu seolah memudar dan mulai sirna dari hatinya sejak tiga tahun yang lalu ibunya menderita sakit dan sempat berada dalam kondisi kritis. Ibunya memang memiliki masalah dengan tekanan darah dan penyakit diabetes. Ibu sempat koma selama dua hari dan cukup lama dirawat di rumah sakit, dan sejak itu Kayla seolah “kehilangan” sang ibu. Ibu menjadi sosok yang seolah berbeda dan asing, jauh berbeda dari sosok kebanggaan di hati Kayla. Belakangan ibunya menjadi mudah lupa, selalu tampak bingung dengan apa yang mau dilakukan dan tidak lagi tertarik dengan hal-hal yang dulu disukainya. Awalnya Kayla tidak menyadari rasa kehilangan di hatinya itu, namun lama kelamaan kesadaran itu muncul seiring dengan respon-responnya yang seringkali kurang sabar menghadapi sang ibu. Walau demikian, kehilangan itu tidak serta-merta menghilangkan harapannya untuk dapat merengkuh kembali figur Ibu yang dirindukannya. Jauh di dalam hatinya, Kayla ingin kembali menyayangi dan membanggakan Ibu tanpa harus “kecewa” dengan perubahan pada diri Ibu, tanpa harus kehilangan kesabaran terhadap sosok Ibu yang sekarang: perempuan yang sekarang sedang digandengnya ini…

Lamunan itu tiba-tiba buyar saat Kayla merasakan tangannya ditarik dan dalam sekejap dia mendengar suara ibunya berkata, “Kay, bukannya toko obatnya ada di seberang jalan, ya? Jadi, kita harus menyeberang jalan.” Dengan cepat Kayla menjawab, “Iya, Bu… Kita memang harus menyeberang jalan ke toko obat itu.” Ibunya langsung menimpali, “Kamu dari tadi diam saja, Ibu pikir kita mau ke mana…” Sedetik Kayla ingin menjawab dengan nada seperti yang biasanya dia gunakan, tapi di detik berikutnya dia seperti tersadar bahwa ini adalah kesempatan untuk dia belajar sabar menghadapi ibunya. “Iya, Bu… Kayla minta maaf, dari tadi melamun sendiri… Maaf ya, Bu…” Dan perkataan itu memang diterima di telinga sang ibu tapi seolah tidak di hatinya, jadi Ibu mengulang lagi kata-katanya, kali ini dengan tekanan lebih, “Kamu dari tadi diam saja, Ibu pikir kita mau ke mana…!” “Nah, ini kesempatan untuk memberikan respon yang berbeda,” pikir Kayla.  Dihentikannya langkahnya. Sambil menatap dan memegang bahu ibunya, Kayla berkata, “Ibu… Kayla minta maaf… Tadi Kayla jalan sambil melamun, jadi nggak ngajak Ibu bicara,” lalu dipeluknya sang ibu.  Saat itu juga hatinya terasa berubah. Responnya itu seolah menyatakan kata hatinya, “Ibu… Bagaimanapun keadaanmu saat ini, aku mau menyayangi dan tetap menerimamu apa adanya.” Dan di pinggir jalan besar itu, air mata Kayla tidak dapat dibendung lagi, kali ini air mata keharuan dan kebahagiaan.  Terlebih saat sang ibu membalas pelukannya dengan hangat. Siang itu, teriknya matahari tidak lagi terasa panas tetapi justru memberikan kehangatan di hati Kayla. Tuhan terlampau baik baginya dengan memberikan kesempatan bagi hatinya untuk berubah terhadap sang ibu, sekaligus menyadarkan bahwa waktunya tidak panjang untuk mengisi hari-hari dan sisa hidup sang ibu dengan kenangan-kenangan indah.

Tidak jauh dari tempat mereka berdiri tampak seorang bapak tua berjalan dengan memakai tongkat. Rupanya bapak itu juga mau menyeberang jalan. Hatinya yang kini ringan dan penuh dengan kasih mendorongnya untuk tersenyum dan bertanya kepada bapak tua itu, “Om mau nyebrang jalan…?” Bapak tua itu menjawab, “Iya, Dik…” Segera Kayla mengucap, “Ayo Om, kita nyebrang sama-sama, ya…” Dipegangnya tangan bapak tua itu di sebelah kirinya dan diraihnya tangan sang ibu di sebelah kanannya, yang kali ini digenggamnya dengan erat sambil tersenyum dan berkata, “Sekarang kita nyebrang jalan sama- sama ya, Bu…”

Setelah sampai di seberang senyum mengembang bukan hanya di wajah tapi juga di hati Kayla. Betapa bersyukurnya dia karena diciptakan sebagai seorang perempuan. Setiap rasa dan asa dapat menyatu dalam balutan kasih Tuhan, melukiskan sukacita yang meluap-luap. Seolah merasakan surga di hatinya, Kayla memanjatkan doa, “Tuhan, terima kasih karena Engkau menciptakan aku sebagai perempuan… Terima kasih untuk setiap rasa yang ada di hatiku ini. Lewat setiap rasa di hatiku, aku mau belajar melihat Engkau… Terima kasih, karena engkau membuat mata hatiku melihat bahwa saat ini adalah anugerah dan kesempatan yang Engkau berikan untuk aku terus belajar bertumbuh sebagai penolong untuk orang-orang di sekitarku, termasuk untuk Ibu… Terima kasih Tuhan, untuk ibuku…”

“Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” (1 Yoh. 4:12)

 

(berdasarkan kisah nyata)

2019-10-17T15:54:20+07:00