///Membangun citra diri perempuan

Membangun citra diri perempuan

Hari ini, perjuangan yang sama masih dilakukan oleh banyak perempuan di sekitar kita, karena banyak dari mereka yang merasa terpinggirkan karena pandangan dan nilai-nilai yang bertumbuh di masyarakat terutama oleh budaya patriarki. Dengan berbagai cara, perempuan berusaha mendapatkan penghormatan dan penghargaan bagi dirinya; mulai dari memilih dan menjadikan karir tertentu sebagai keberhargaan, mengejar prestasi dalam pendidikan, gaya hidup mewah dan serba bermerek, menjadi anggota komunitas/kalangan tertentu, bahkan mengejar status pelayanan dalam sebuah organisasi gereja sebagai ajang pembuktian diri. Bagaimana kita sebagai perempuan seharusnya menyikapi semua ini?

Mengenal dan memahami diri dengan benar akan membangun sikap diri yang benar. Demikian pula halnya dengan perempuan. Kita harus memulai pembelajaran dan pemahaman ini dari Dia yang menciptakan kita. Dengan demikian, kita sebagai perempuan akan mengerti tujuan keberadaan kita di muka bumi ini.

Ribuan tahun yang lalu, kehadiran Yesus telah mendobrak sejumlah peraturan-peraturan agama maupun budaya yang memposisikan perempuan sebagai kaum yang terpinggirkan. SikapNya membuka jalan bagi para perempuan untuk disambut dan dilibatkan dalam pelayananNya. Yohanes yang tinggal bersama dengan Yesus selama tiga tahun menulis kejadian-kejadian paling penting dalam pelayanan Yesus dan sungguh menakjubkan, betapa banyak kisah tentang perempuan yang tertulis di dalamnya! Kita dapat membaca tentang bagaimana cara Yesus memperlakukan kaum perempuan di dalam kisah-kisah itu. Salah satunya adalah ketika Yesus diundang makan di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Di tengah riuhnya jamuan makan, tiba-tiba datang seorang perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa di kota itu. Ia tersungkur di kaki Yesus sambil menangis tiada henti, kemudian meminyaki kaki Yesus dengan menuang sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi sambil menyekanya dengan rambutnya. Tidak hanya itu, ia pun menciumi kaki Yesus. Begitu dalam kerinduan di hatinya ingin berjumpa dengan Yesus, begitu kuat keinginannya untuk melayani satu-satunya pribadi yang mampu menghapus seluruh dosanya dan mengembalikan keberhargaan dirinya. Hasrat dan cintanya pada Pribadi ini tak terbendung lagi hingga ia tak mempedulikan penilaian orang di sekitarnya. Mungkin saja ia telah merencanakan hal ini sejak lama, karena seketika saja ia mendengar Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, ia segera datang untuk menemui Yesus. Melihat perbuatan perempuan itu, para pria yang ada di sana mulai bergunjing di dalam hati, “Apakah Yesus tidak tahu siapa perempuan itu?” Memang, terlepas dari status sosialnya, tindakan semacam itu tidak lazim dilakukan dalam budaya masyarakat Yahudi kala itu; misalnya, tidaklah sopan bagi seorang perempuan untuk membuka penutup rambutnya di muka umum. Berbeda dengan para pria tersebut, Yesus ternyata sangat menghormati dan menghargai perempuan ini. Ia mengerti bahwa momen ini sangat penting baginya. Ia tahu bahwa perempuan ini mungkin telah dihina dan dipersalahkan sepanjang hidupnya, dan Ia ingin menunjukkan bahwa Ia menerima dia sepenuhnya. Sikap Yesus selanjutnya menunjukkan penghargaannya kepada perempuan, “Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi dia membasahi kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. Engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak, tetapi dia meminyaki kakiKu dengan minyak wangi…” (Lukas 7:44-46). Sungguh sebuah perlakuan yang berbeda. Yesus memberikan rasa hormatNya kepada seorang perempuan. Di lain kesempatan dan lain kisah, Yesus menggambarkan seorang perempuan sebagai ‘anak perempuan Abraham’ (Lukas 13:16). Melalui sebutan ini, Ia memperlihatkan bahwa pria dan perempuan sejajar di hadapan Allah. Apa kesimpulannya? Yesus mengembalikan citra diri perempuan seperti gambaran awal perempuan diciptakan, yaitu segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26). Bahkan, misi utama Yesus di bumi ini adalah membuat semua manusia (laki-laki maupun perempuan) kembali memiliki hubungan yang benar dengan Allah.

Jika Tuhan sendiri memandang perempuan dengan kasih, penuh rasa hormat dan penghargaan, betapa rendahnya jika perempuan itu sendiri menilai dirinya dengan hal-hal yang fana dan berdasarkan ‘apa kata dunia’. Keberhargaan kita sebagai perempuan bukan ditentukan dari apa yang kita punya/ perbuat, tetapi dari ‘apa kata Tuhan’ tentang diri kita. Ingat ‘apa kata Tuhan’ ini, yaitu bahwa kita diciptakan segambar dan serupa dengan Dia sendiri dan kita sejajar dengan laki-laki sebagai teman pewaris dalam KerajaanNya. Inilah standar dan status keberhargaan perempuan, yaitu Kristus sendiri sebagai Pencipta dan Pemilik diri kita. Perempuan yang memilih untuk hidup tanpa Kristus, menghargai dirinya berdasarkan hal-hal yang di luar Kristus, akan meng-allah-kan hal-hal yang lain itu: hartanya, karirnya, hubungannya, pelayanannya, dsb. Mari hari ini kita terima kehormatan dan keberhargaan yang sejati ini. Mulailah dari Dia – Sang Pencipta perempuan. (/cc)

2019-10-17T16:32:31+07:00