///Nyanyian dari hati

Nyanyian dari hati

Umumnya seseorang bernyanyi jika hatinya sedang bersukacita. Nyanyian adalah ungkapan dari apa yang ada di hatinya. Lagu sedih pun sulit dinyanyikan saat hati sedang dilanda kesedihan. Biasanya saat hati sedang bersedih, lagu sedih hanya enak untuk didengar tapi sulit dinyanyikan. Seolah hati ini memang lebih diciptakan untuk menikmati sesuatu yang indah dari pada sesuatu yang sedih… Dua wanita dari masa hidup yang berbeda yang ditulis di Alkitab menggambarkan hal ini.

Adalah Hana, istri Elkana orang Efraim, yang menyanyikan nyanyian imannya sebagai ungkapan syukur, bukan sekedar karena doanya dijawab tetapi lebih karena kedaulatan dan bagaimana Tuhan memperhatikan jeritan hatinya. Puji-pujian itu tertulis dalam 1 Samuel 2:1-10. “Lalu berdoalah Hana, katanya: ‘Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.  Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita. Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji. Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan. Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu. TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.  Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa. Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit. TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya.’”

Alkitab mencatat hal yang menarik di bawah judul perikopnya: “Lalu berdoalah Hana, katanya:…” (KJV – And Hannah prayed, and said). Ini bukan sekedar nyanyian atau pujian, tapi ini menggambarkan isi hati Hana yang sejujur-jujurnya kepada Allah sebagai yang Maha Kudus, yang Maha Tahu, yang Maha Kuasa, yang Maha Kasih, dan yang Maha Adil. Hana mendedikasikan puji-pujian itu sebagai doa dan pernyataan imannya kepada Allah. Dalam menjalani hidup sehari-hari, sudahkah kita berdoa dengan sikap hati yang tulus menyembah Tuhan seperti yang Hana lakukan?

Wanita kedua yang juga tercatat adalah Maria, istri Yusuf, ibu Yesus. Wanita ini pun menaikkan puji-pujian kepada Allah seperti ditulis dalam Lukas 1:46-56.
“Lalu kata Maria: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.’”

Judul perikop yang dicatat di alkitab adalah “Nyanyian Pujian Maria”. Dalam Lukas 1:46, disebutkan “Lalu kata Maria: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan..’” (KJV – “And Mary said, ‘My soul doth magnify the Lord’”). Yang menarik dalam nyanyian ini, Maria teringat dan mengutip janji firman Tuhan yang disampaikan kepada Abraham yang dicatat dalam Kejadian 17:7, “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.”

Kedua wanita ini melewati proses yang sulit untuk dapat tetap bertekun dalam iman mereka melalui apa yang Tuhan percayakan. Hana doanya dijawab Tuhan setelah sekian lama, kemudian dipercayakanlah Samuel lahir dari rahimnya. Maria tanpa ia sangka-sangka dikaruniai Tuhan kasih karunia untuk mengandung dan melahirkan Yesus sang Mesias dari rahimnya. Sebagai wanita, tidak mudah bagi Hana maupun Maria menjalani hidup sambil bertekun dalam iman terhadap janji yang Tuhan berikan. Hana bernazar bahwa setelah Samuel disapih ia akan menyerahkan anak itu kepada Tuhan untuk menjadi pelayan Tuhan menolong imam Eli di bait Allah dan melayani Tuhan seumur hidupnya. Kekuatan iman Hana diteguhkan dengan nazarnya. Anak yang semula sangat diinginkannya, dengan rela dan sukacita diserahkannya kepada Tuhan. Sungguh sikap yang bertolak belakang dari keinginannya semula, tapi itulah iman yang bekerja dalam hati dan hidupnya. Iman yang menghasilkan kekuatan di batinnya, yang mengubah sikap hati Hana untuk tidak lagi memikirkan keinginannya tetapi justru memikirkan bagaimana ia menyenangkan Tuhan lewat hidupnya, termasuk melalui anak yang dilahirkannya. Sedangkan Maria bergumul dengan segala perasaan di hatinya sebagai wanita dan ibu. Bahagia saat melihat Yesus sang Putra lahir dengan sempurna walau dalam kondisi yang tidak mudah, namun juga berduka dengan sangat saat sang Putra disiksa dan meregang nyawa hingga mati di kayu salib. Kekuatan Maria ada di batinnya, seperti Alkitab mencatat bahwa Maria menyimpan semua itu dalam hatinya (Luk. 2:19&51). Kekuatan batin yang dimiliki kedua wanita ini merupakan hasil dari kehidupan doa dan pengucapan syukur yang senantiasa hadir setiap kali keraguan itu datang di hati. Setiap doa dan ucapan syukur yang lahir sejujurnya dari hati adalah puji-pujian yang sesungguhnya.

Dari kedua wanita ini kita belajar bagaimana memiliki ketahanan (endurance), sehingga hati kita tetap menyanyikan pujian kepada Tuhan, terutama di saat-saat sulit dan ujian datang menerpa hidup kita. Ini bisa tercapai bukan karena kesanggupan manusia, namun semata-mata karena anugerah iman dan kasih karunia Allah. Iman dan kasih karunia Allah itulah yang memampukan kita menjadi wanita yang dapat menghidupi kebenaran Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari dan menghasilkan karakter dalam hidup kita. Setiap pembelajaran kehidupan yang kita terima dari Tuhan akan menghasilkan pernyataan iman sebagai tanda kedewasaan pengenalan pribadi kita akan Tuhan.

Pertanyaan refleksi :
1. Saat ujian hidup dan kesulitan datang, respon apa yang biasanya pertama kali muncul dalam hatimu ?
2. Kapan biasanya hati Anda teringat untuk berdoa, bersyukur kepada Tuhan ?
3. Apakah Anda biasanya dapat menemukan pembelajaran apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup Anda melalui peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi ?

2019-11-01T11:13:26+07:00