///Penebar Kasih yang dikasihi

Penebar Kasih yang dikasihi

Februari menjadi bulan yang identik dengan kasih. Hari Valentine menjadi kesempatan dan peringatan bagi sekelompok orang untuk berlomba-lomba melakukan sesuatu yang berkesan sebagai perwujudan kasihnya kepada sesama. Kasih merupakan sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan, karena perwujudan kasih tidak dapat diidentikkan sekedar dengan pemberian. 1 Korintus 13:1 dengan gamblang menyatakan bahwa sekalipun kita dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia, bahkan bahasa malaikat sekalipun, tetapi jika kita tidak memiliki kasih, kita sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Bahkan dalam 1 Korintus 13:4-7, Paulus menunjukkan bahwa kasih merupakan sikap hati kita di hadapan Tuhan dan sesama (“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”). Ini merupakan sebuah standar yang tidak mudah untuk kita penuhi, bukan?

Namun, kasih yang berstandar luar biasa tinggi itu telah Yesus lakukan lebih dahulu bagi kita. Ia memberikan teladan kasih agar kita mampu melakukannya, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil. 2:8). Yesus memberikan hidupNya agar kita diselamatkan dari dosa, kebodohan dan kegelapan yang menyelubungi kehidupan kita. Kasih menjadi dasar tindakan Yesus sehingga kematianNya menjadi sebuah tindakan yang mengubah dunia. Inilah yang dapat kita terapkan juga. Kita pun dapat menjadi pengubah dunia, jika tindakan-tindakan kita sehari-hari, sekecil apapun, didasari dengan kasih.

Saya teringat akan seorang wanita yang berprofesi sebagai seorang ibu rumah tangga, ia tinggal di sebuah kota kecil di Thailand. Hidup wanita ini menjadi inspirasi bagi wanita-wanita di Indonesia melalui kesaksian hidup sehari-harinya, yang ia bagikan melalui salah satu situs jejaring sosial. Mulanya, ia hanya memberi semangat kepada teman-teman pemuridannya di Indonesia, tetapi lama-kelamaan kisah hidupnya semakin terdengar luas dan menjadi inspirasi bagi wanita-wanita yang mendengar kisahnya. Ia memberi semangat kepada ibu-ibu muda mengenai pentingnya memenuhi panggilan menjadi seorang ibu. Lewat postingan gambar dan tulisan-tulisannya, ia menunjukkan apa yang dilakukannya sehari-hari dengan kasih, seperti memasak, melayani suami, merapikan rumah, mengasuh anak, memberkati anak-anak tetangga mereka melalui pendidikan home schooling yang dijalaninya bersama suami ternyata dapat memberi dampak yang besar bagi orang yang membacanya. Secara pribadi, saya sangat terinspirasi dengan kehidupannya yang mencerminkan kasih. Saya belajar untuk tidak hanya sekedar menyediakan makanan di meja bagi keluarga saya, tetapi bagaimana menyajikannya dengan kasih, dan ternyata memang hasilnya berbeda dengan ketika saya melakukannya hanya karena kewajiban. Kita tahu bahwa setiap ibu diharapkan dapat menjadi home maker bagi keluarganya, dan hal ini hanya dapat dijalani dengan dasar kasih. Setiap pribadi yang ada di dalam rumah kita akan menyadari dan merasakan kehadiran Tuhan setiap hari ketika kita melakukan tugas dan tanggung jawab kita dengan kasih Kristus.

Alkitab juga mencatat seorang wanita yang hidupnya dipenuhi dengan kasih, yang bernama Dorkas. Apa yang ia lakukan merupakan hal sederhana yang banyak wanita juga mampu melakukannya kala itu. Namun yang membedakan Dorkas dengan wanita-wanita lain adalah ia melakukannya dengan dasar kasih. Itu sebabnya apa yang Dorkas lakukan memberi dampak yang besar bagi para janda di Yope. Dorkas menjahit bukan hanya karena itu satu-satunya mata pencahariannya, Dorkas menjahit karena ada sukacita yang besar ketika ia melihat janda-janda di Yope memakai pakaian hasil jahitannya. Bukan hal yang spektakuler, bukan? Tetapi ketika maut datang menjemput Dorkas, seluruh janda-janda yang pernah dilayaninya merasa sedih dan memohon kepada Petrus agar melakukan mukjizat atas Dorkas. Kehidupan, kematian dan kebangkitan Dorkas telah memberikan dampak bagi pekabaran Injil saat itu. Beberapa waktu lamanya, Petrus tidak dapat meninggalkan kota Yope, karena orang banyak memerlukan dirinya karena bertanya tentang Allah dan jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus Tuhan (Kis. 9:36-42).

Kisah Dorkas dan ibu rumah tangga tadi menunjukkan kesimpulan yang jelas. Kita perlu menyadari bahwa setiap tindakan atau perbuatan kita sehari-hari bila didasari dengan kasih akan memberi dampak besar bagi orang-orang di sekitar kita, karena kasih tidak pernah gagal. Jangan pernah sepelekan hal-hal sederhana yang sehari-hari kita lakukan. Walaupun tampaknya kecil, namun dengan dasar kasih, dampaknya akan menjadi luar biasa. (cc)

2019-11-01T11:55:55+07:00