///Perempuan dalam Bencana

Perempuan dalam Bencana

 

Sebagai contoh kongkret, berdasarkan data yang dipaparkan oleh Lorena Aguilar, seorang Senior Gender Advisor untuk IUCN (International Union for Conservation of Nature), pada bencana tsunami di tahun 2004 yang melanda Aceh (dan sebagian wilayah Asia Selatan secara lebih luas), sekitar 70% hingga 80% korban yang meninggal adalah perempuan. Sementara dalam bencana badai siklon tropis dan banjir besar yang sempat melanda Bangladesh pada tahun 1991, tingkat kematian pada perempuan sangat tinggi, yaitu 71 per 1.000 penduduk. Sementara untuk tingkat kematian pada laki-laki yaitu 15 per 1.000 penduduk.  Berdasarkan data statistik yang dihimpun oleh Ikeda K. dalam Indian Journal of Gender Studies, 90% dari 14.000 korban yang meninggal karena badai siklon tropis tersebut adalah perempuan.

 

Angka ini sangat mencengangkan. Mengapa tingkat kematian perempuan dalam suatu bencana alam bisa sedemikian tingginya? Karena perempuan memiliki vulnerabilitas yang lebih tinggi terhadap bencana alam; perempuan dijadikan sebagai penjaga utama (primary caretakers) untuk para korban bencana, seperti: anak-anak, orang-orang yang terluka dan lansia.  Hal ini dikarenakan dalam kultur tradisional perempuan seringkali ditempatkan sebagai penanggung jawab di sektor domestik, juga sebagai pribadi yang bertanggung jawab untuk merawat dalam bidang kehidupan sehari-hari.

 

Meskipun data diatas berbicara bahwa wanita mahluk yang rentan terhadap bencana, bukan berarti kita tidak dapat melakukan apapun.  Saat menulis artikel ini saya terinspirasi oleh teman saya yang melakukan hal yang sangat sederhana pada saat terjadi bencana banjir besar di Jakarta; ia memasak untuk 40 paket makanan (homemade) khusus anak-anak pengungsi banjir usia batita dan balita di wilayah Keramat Jati-Jakarta. Tindakannya ini mendapat apresiasi dan menginspirasi teman-teman lainnya untuk melakukan hal serupa di wilayah Depok, Bekasi, Bogor dan Karawang.  Apa yang teman saya lakukan ini bukanlah sebuah perbuatan yang spektakuler, sesuatu yang ia biasa lakukan sehari-hari, jumlahnya pun tidak seberapa, namun apa yang ia lakukan lahir dari hati seorang penolong dan yang pasti menjadi inspirasi dan teladan bagi wanita-wanita disekitarnya.

Aksi teman saya tersebut mengingatkan saya akan kisah Rut, wanita sederhana yang berasal dari Moab.  Ia mengenal Tuhan melalui Naomi ibu mertuanya. Sepanjang kitab Rut, kita dapat melihat cerminan Tuhan yang hidup di dalam pribadi Rut yang sederhana. Berbuat baik, ini yang dilakukannya. Untuk dapat memahami apa yang dialami Rut, kita perlu melihat bagaimana masyarakat menempatkan perempuan pada zaman itu.  Perempuan memiliki status sosial dalam masyarakat manakala ia menjadi anak dalam rumah bapanya atau menjadi seorang istri dalam rumah suaminya. Tanpa seorang pria, perempuan tidak memiliki status sosial.  Itu sebabnya ketika Naomi mendengar Tuhan telah kembali memperhatikan Israel, ia memutuskan untuk kembali ke tanah Betlehem, tempat keluarga ayahnya dan ia berharap mendapat makanan disana (Rut 1:6).  Dalam perjalanan Naomi dengan bijaksana, menasehati Rut dan Orpa untuk melakukan hal yang serupa yaitu kembali ke orang tua mereka masing-masing.  Seperti kita ketahui, Orpa mengambil keputusan bijaksana yang lazim dilakukan saat itu.  Namun Rut tidak tahan untuk melakukannya, ia pergi meninggalkan bangsanya dan menjadi penolong bagi Naomi (Rut 1:8-9, 14-17).  Rut melakukan pelayanan yang terbaik, ia melakukan apa yang dapat ia lakukan; setiap hari Rut bangun pagi-pagi, memetik bulir-bulir jelai di ladang Boas, kemudian membawanya pulang dan dimasaknya untuk Naomi. Rut melakukan ini dengan sangat rajin dan tekun. Tahu bahwa saat itu adalah musim menuai jelai, Rut mengambil inisiatif untuk bekerja dan mencari nafkah. Apa yang dia bisa, diusahakannya untuk melayani Naomi.

Pelajaran dari kisah 2 perempuan ini, mereka peka melihat situasi disekitarnya dan memakai kemampuan yang mereka miliki untuk memberkati orang-orang disekitarnya, meskipun mereka juga sedang berada dalam situasi yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang ditolongnya.

Jika data mencatat bahwa wanita mahluk yang rentan terhadap bencana, mari kita melihat dengan kacamata yang berbeda, didalam bencana kita tetap bisa menjadi penolong bagi sesama.  Mari renungkan, apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang disekitar kita? Mulailah dari hal yang paling sederhana yang bisa kita lakukan. Ingatlah selalu bahwa Tuhan dapat memakai keunikan dan kepekaan kita sebagai wanita, sehingga kita dapat berfungsi dan menjadi teladan bagi dunia.(cc/WB)

2019-10-29T10:15:05+07:00