///Perempuan najis yang diperbaharui

Perempuan najis yang diperbaharui

Diliputi oleh rasa takut, perempuan itu tersungkur di kaki Yesus dan mengakui perbuatannya. Namun ternyata, apa yang Yesus lakukan bukan hanya menyembuhkan sakitnya secara fisik, tetapi juga menyembuhkan rasa keberhargaannya sebagai seorang perempuan yang najis, kotor dan hina. Yesus menjawab pengakuan si perempuan yang sedang gemetar itu dengan penuh kasih, “AnakKu, karena kamu percaya penuh kepadaKu, kamu menjadi sembuh. Sekarang pulanglah dengan hati yang tenang, karena kamu benar-benar sudah sembuh dari penyakitmu itu.” (Mrk. 5:34, versi Terjemahan Sederhana Indonesia).

Kisah di atas merupakan sepenggal cerita nyata dari seorang perempuan yang mengalami mujizat dalam hidupnya setelah 12 tahun menderita sakit. Di era kasih karunia ini, kita pun banyak mendengar kisah-kisah keajaiban pekerjaan Tuhan dalam kehidupan orang percaya. Apakah Anda termasuk di dalam kisah-kisah ajaib itu? Sudahkah Anda mengalami keajaiban Tuhan dalam hidup Anda sehari-hari sebagai seorang perempuan yang percaya kepada Allah? Firman Tuhan secara gamblang menyatakan, “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah,” (Ibr. 11:6). Sama seperti perempuan yang mengalami mujizat kesembuhan itu, Anda dan saya harus melihat betapa pentingnya hidup dalam iman.

Iman merupakan hal utama yang akan meneguhkan, menopang, dan melindungi kita di tengah-tengah keraguan dan pergumulan hidup. Iman yang bekerja akan menghasilkan mujizat dalam kehidupan ini. Agar iman dapat terus bekerja, setiap orang percaya, termasuk perempuan, harus menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidupnya, karena “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm. 10:17) dan “firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Ia harus bergantung kepadaNya dalam segala hal, dan menjadikan imannya aktif dan nyata dalam kehidupan sehari-hari – tidak hanya pada hari Minggu, misalnya. Kehidupannya harus mencerminkan kebergantungan total kepada Tuhan.

Allah senantiasa mengasihi kita, dan Ia menginginkan hidup kita dipenuhi dengan sukacita dan damai sejahtera. Namun terkadang, Ia mengizinkan situasi yang sulit terjadi. Tetapi, itu tidak mengubah pribadi Allah dan kepedulianNya atas hidup kita. Perempuan-perempuan yang namanya tercatat dalam Alkitab tidak dilahirkan sebagai perempuan yang sangat beriman, melainkan dibentuk dan diperkokoh imannya lewat ujian-ujian yang lama dan sukar. Ketika mereka berserah, tunduk, dan mengizinkan Tuhan bekerja di dalam hati mereka, saat itulah kualitas iman mereka bertumbuh menjadi lebih dari sebelumnya. Sekalipun sebagian dari kesulitan yang kita alami merupakan akibat dari perbuatan kita sendiri, Allah tetap menggenapi janjiNya bahwa Ia tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkan kita, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibr. 13:5).

Iman kepada Allah tidak berarti segala sesuatunya akan berjalan secara “ajaib” sesuai dengan keinginan kita. Satu-satunya cara agar memperoleh mujizat melalui iman kita adalah dengan memercayaiNya untuk melakukan segala sesuatu menurut cara dan waktuNya. Ingat, Yesaya 55:8-9 berkata, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu”.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengenal Allah dengan baik dan memiliki iman yang sejati. Membaca Alkitab, berusaha sungguh-sungguh mengenal firman Allah, adalah cara terbaik untuk mengenal dan benar-benar memahami siapa Allah sebenarnya. Tidak ada keintiman yang lebih besar bagi seorang perempuan, selain perjalanan spiritualnya dengan Kristus. Sebab, pada akhirnya iman membawa kita pada kasih Kristus yang tingginya, dalamnya, panjangnya, dan lebarnya tak terselami oleh apa pun juga. Kasih Kristus yang tidak terbatas akan memenuhi kebutuhan terdalam pada diri setiap perempuan, yang tidak dapat dipenuhi oleh siapa pun yang lain.

 

Pertanyaan refleksi:

1. Bagaimana kualitas hubungan pribadi Anda dengan Tuhan  pada hari-hari ini?

2. Kapan terakhir kali Anda mendengar suara Tuhan?

3. Sudahkah Anda bertanya dan melibatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?

4. Sudahkah Anda menyadari dan mengalami kehadiran Tuhan dalam aktivitas sehari-hari?

5. Buatlah komitmen pribadi dan rencana yang jelas untuk membaca Alkitab setiap hari!

2019-10-17T14:05:07+07:00