///Perempuan yang percaya doanya didengar

Perempuan yang percaya doanya didengar

Selain Hawa, Sarah, dan Maria, Hana merupakan salah satu tokoh wanita dalam Alkitab yang dicatat perannya sebagai seorang ibu. Mereka diingat karena dedikasi dari pelayanan yang diberikan oleh anak-anak mereka. Nama “Hana” membuat kita teringat kepada imannya yang hidup dan berkuasa. Di dalam kisah Hana, Anda dapat merasakan sebuah kekuatan yang mengubah suatu situasi yang mustahil menjadi nyata (1 Sam. 1 – 2:11).

Hana tidak pernah menyangka bahwa pernikahan kedua yang dilakukan suaminya akan mengakibatkan penderitaan yang besar di dalam hidupnya. Namun, bagi Hana ujian kehidupan bukanlah penghalang untuk datang kehadirat Allah dengan leluasa. Hanya di dalam hadirat-Nyalah, ia dapat menangis sejadi-jadinya, mencurahkan seluruh penderitaannya. Ia paham betul bahwa hanya Allah-lah yang dapat memahami hatinya, meskipun sang suami mengatakan bahwa ia lebih mencintai Hana dibandingkan madunya – Penina. Lagipula, kasih suaminya itu lebih berharga dari sepuluh anak laki-laki.

“Tuhan semesta alam, …” Inilah tiga patah kata yang Hana ucapkan pertama kali dalam kalimat doanya. Pernyataan ini menunjukkan iman Hana kepada Tuhan selaku pemilik langit, bumi, dan segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Imannya memberikan keberanian bagi Hana untuk mengajukan sebuah permohonan yang besar dan sangat spesifik, “Tuhan … berikan kepada hambamu ini seorang anak laki-laki.” Bahkan, ia bernazar bahwa jika Tuhan menghendaki, anak itu akan dipersembahkannya kepada Tuhan. Meskipun Alkitab tak mencatat secara spesifik, sebuah kajian teologia meneliti dan menyimpulkan bahwa kemungkinan Hana juga menyadari permohonannya ini bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk kondisi kerohanian bangsanya. Saat itu, memang kebobrokan iman bangsa itu terlihat dari perilaku Imam Eli dan keluarganya.

Setelah Hana menaikkan doa permohonannya, ia memperoleh kedamaian akan janji bahwa Allah Israel akan memberikan apa yang dimintanya. Dengan penuh keyakinan, pernyataan Imam Eli itu menjadi iman di hatinya. Ia berjalan dengan penuh kepastian, sebagaimana yang dicatat dalam Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ya, iman senantiasa membawa kita pada kepastian akan kemustahilan.

Setahun kemudian, lahirlah Samuel. Hana menikmati masa-masa yang membahagiakan sejak Samuel bayi hingga ia bisa berjalan. Meskipun demikian, Hana tak lupa akan janjinya. Setelah disapih, ia memberikan Samuel kembali sebagai persembahan kepada Allah. Samuel dibawanya ke dalam Bait Allah untuk melayani Allah seumur hidupnya. Sejak itu, ia hanya bertemu dengan Samuel setahun sekali pada waktu ia dan Elkana pergi ke Silo untuk mempersembahkan korban sembelihan.

Kalau kita membaca seluruh kisah ini dengan saksama, yang menarik adalah sikap Hana sesaat setelah ia menyerahkan Samuel kecil. Alkitab mencatat, Hana menaikkan ucapan syukur kepada Allah. Doa, iman, dan ucapan syukur kepada Allah ternyata menjadi ciri khas kehidupan Hana. Ia tahu persis bahwa orang yang menyerahkan segala miliknya kepada Allah akan menerima kembali lebih daripada itu, sebab Allah tidak pernah berhutang. Di tahun-tahun selanjutnya, Allah pun mengaruniakan kepada Hana lima orang anak lagi.
Iman yang dimiliki Hana ternyata hidup juga di dalam diri Samuel. Kehadiran Samuel menjadi sebuah titik tolak dalam sejarah bangsa Israel. Seiring dengan pertumbuhan Samuel, Firman Allah mulai kembali terdengar di tengah-tengah bangsa itu. Orang Israel meninggalkan berhala-berhala mereka dan kembali menyembah Allah. Tabut perjanjian yang semula direbut oleh bangsa Filistin pun dikembalikan. Kota-kota yang direbut musuh, kini dapat diduduki kembali. Samuel merupakan salah satu tokoh yang dicatat sebagai pahlawan iman dalam Ibrani 11:32-33: “Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa.”
Jika Anda merasa sedang berada dalam suatu keadaan yang mustahil, belajarlah dari Hana yang percaya bahwa doanya didengar. Bukan hanya itu saja, latihan iman yang Anda lewati dalam setiap kemustahilan ternyata dapat menjadi sebuah warisan yang kekal bagi generasi berikutnya kelak.

Pertanyaan Refleksi:
* Apakah Anda percaya bahwa doa Anda didengar Allah?
* Kapan terakhir kali Anda menaikkan ucapan syukur dengan iman kepada Allah?
* Ambillah waktu sejenak dan naikkanlah ucapan syukur kepada Allah atas hidup Anda hari ini, meskipun situasi yang terlihat tidak sesuai dengan keinginan Anda.

2019-10-17T11:22:34+00:00