///Perjumpaan yang mengubahkan

Perjumpaan yang mengubahkan

“Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepadaNya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepadaNya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataanNya,  dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”(Yoh. 4:39–42)Bu Ning menutup perikop yang malam itu dibaca bersama dengan putrinya, Ratna, yang langsung menghela napas panjang seolah dia sendiri ada di dalam seluruh kejadian dan dialog tersebut. Tidak lama kemudian Ratna bertanya, “Bu, rasanya setiap orang yang ketemu sama Tuhan Yesus, hidupnya berubah dan memengaruhi orang-orang yang ketemu sama dia; seperti itu si perempuan Samaria itu ya,Bu..?”

Bu Ning berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan putrinya, sambil mencoba menemukan jawaban bijaksana untuk melanjutkan pembelajaran bersama putrinya malam itu. Tidak lama kemudian dia menjawab perlahan, “Di Perjanjian Lama tertulis tentang “perjumpaan” dengan Allah yang dialami oleh beberapa pribadi yang sedikit agak berbeda dari apa yang dialami perempuan Samaria ini. Seperti yang dialami oleh gadis pelayan istri Naaman, Ratu Ester, dan Rahab.”

“Oh ya..?” mata Ratna berbinar mendengar ucapan ibunya. “Ibu ceritakan dong, apa perbedaannya?” Bu Ning tersenyum bahagia melihat keingintahuan putrinya dalam pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana mereka berjumpa dengan pribadi Allah, Bu?”

Bu Ning menjawab, “Mereka tidak berjumpa secara langsung, tetapi mereka “berjumpa” lewat kisah kebesaran dan karya Tuhan Allah yang turun temurun diceritakan, yaitu bagaimana Allah Abraham, Ishak, dan Yakub membawa dan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Itu semua adalah kisah nyata yang tidak pernah habis diceritakan, bahkan sampai hari ini. Mereka adalah pribadi-pribadi yang mendengar kisah ini dari orang tua, keluarga, dan kerabat (Keluaran 10:2, dan supaya engkau dapat menceriterakan kepada anak cucumu, bagaimana Aku mempermain-mainkan orang Mesir dan tanda-tanda mujizat mana yang telah Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN. Ulangan 6:10-12, Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikanNya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu  —  kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami  —  dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan).

“Perjumpaan” mereka dengan Tuhan menghasilkan iman dalam hidup mereka. Itulah sebabnya, gadis pelayan istri Naaman yang tidak disebutkan namanya dalam Alkitab dapat meyakinkan nyonya majikanya untuk mencari seorang abdi Allah di Samaria demi kesembuhan suaminya, Naaman, sang panglima raja Aram (2 Raja-raja 5:1-3, Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta. Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”) dan mengubah hidup Naaman bahkan sampai akhirnya dia mempercayai dan menyembah Allah sang penyembuh penyakit kustanya (2 Raja-raja 5:15, 17-18, Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini! Akhirnya berkatalah Naaman: “Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN. Dan kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam perkara yang berikut: Apabila tuanku masuk ke kuil Rimon untuk sujud menyembah di sana, dan aku menjadi pengapitnya, sehingga aku harus ikut sujud menyembah dalam kuil Rimon itu, kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam hal itu”). Sang gadis pelayan istri panglima Naaman tidak pernah membayangkan dampak dari apa yang pernah dia sampaikan kepada nyonya majikannya itu. Mengapa dia bisa melakukannya? Karena dia “berjumpa” dan mengalami Allah secara pribadi.”

“Perjumpaan” yang sama itu jugalah yang membuat Ratu Ester dengan iman berpuasa dan memutuskan untuk menghadap Raja Ahasyweros dan mempertaruhkan nyawanya (Ester 4:16,”Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”).

Ratna makin tertarik dengan penjelasan ibunya dan menanggapi sambil berkata, “Rasanya waktu aku baca kitab Ester tidak satupun ada kata “Tuhan” di dalamnya ya, Bu…? Tetapi sejujurnya dalam seluruh kitab itu pribadi Tuhan sangat terasa, Tuhan serasa hidup dan bergerak bersama-sama dengan Ratu Ester, Mordekhai, dan seluruh orang Yahudi yang saat itu ada disana.” Bu Ning tersenyum dan menjawab, “Benar sekali, sayang…Itulah keajaiban kuasa perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan. Hidup kita pasti berubah dan iman kita bertumbuh menjadi sebuah bentuk keberanian untuk hidup dan menyuarakan kebenaran.”

Bu Ning melanjutkan… “Demikian juga halnya dengan Rahab, seorang perempuan pelacur yang tercatat sebagai salah seorang nenek moyang dalam garis keturunan Tuhan Yesus. Dia juga mengalami perjumpaan dengan Allah lewat apa yang pernah didengarnya. Kebesaran Allah orang Israel itu membuat Rahab memercayakan hidupnya dan seluruh keluarganya demi diselamatkan, dan mereka pun menyembah Allah yang sudah menyelamatkan bangsa Israel (Yosua 2:8–13, Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh dan berkata kepada orang-orang itu: “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah. Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya, bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.”)

“Ratna…Dari semua yang kita bicarakan ini, tentunya kita bisa mengambil pelajaran penting bahwa yang namanya perjumpaan dengan Tuhan itu bukan hanya dalam arti secara fisik, tetapi kita dapat berjumpa dengan Dia saat kita membaca firman, berdoa, menyembah, dan bahkan saat kita melakukan aktivitas kita sehari-hari. Dari keempat wanita tadi, tidak satupun adalah pribadi yang sempurna, tetapi perjumpaan mereka dengan Tuhan secara pribadi ternyata memengaruhi cara pikir dan cara hidup mereka. Coba kamu perhatikan, apa yang dikatakan oleh perempuan Samaria, gadis pelayan istri Naaman, Ratu Ester, dan Rahab ternyata dipercaya dan didengar. Kamu tahu apa artinya? Seseorang yang hidupnya mengalami perjumpaan dengan Tuhan,  pasti hidup dan perkataannya  dapat dipercaya dan mampu memengaruhi hidup orang-orang disekitarnya. Nah, bagaimana dengan hidup kita? Hidup ibu secara pribadi dan juga hidupmu? Apa yang kita baca bersama malam ini menyadarkan dan mengingatkan kita untuk melibatkan Tuhan dalam apa yang sehari-hari kita lakukan….”

Malam itu, Bu Ning menutup semuanya dengan doa sederhana, “Bapa di surga, terimakasih untuk firmanMu hari ini yang mengingatkan kami untuk selalu bersyukur dan menghargai kelahiran baru kami didalam Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih karena Engkau telah lebih dahulu menjumpai kami sehingga lewat perjumpaan ini hidup kami berubah dan kami dapat menceritakan apa yang kami alami kepada sebanyak mungkin orang yang belum mengenal Tuhan. Tolong kami Bapa, supaya kehangatan kasihMu yang mula-mula itu terus ada dan hidup didalam kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, Amin…”

Pertanyaan refleksi:

1. Kapan terakhir kali Anda bersyukur untuk anugerah keselamatan dan kelahiran baru Anda di dalam Kristus?

2. Kapan terakhir kali Anda menikmati manisnya kasih Tuhan?

3. Kapan terakhir kali Anda mendengar suaraNya?

4. Mulailah lagi dari sekarang. Jumpai Dia, kenali Dia, dan cintai Dia lebih dari apapun, karena Dialah seluruh hidup Anda!

2019-10-17T12:15:16+07:00