Pesan …

Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai anak tertua, tentunya ayah senantiasa memberikan banyak petuah bagi anak-anaknya untuk hidup kami kelak. Salah satu petuah yang sering ayah ucapkan sejak kami masih sangat kecil ialah, “Ingat nak, apa yang kamu rasa, saudaramu juga harus rasa. Kalau kamu makan ikan, jangan lupa buang tulangnya. Kalau kamu makan kacang, jangan lupa buang kulitnya.”

Dalam petuah ini Ayah ingin mengingatkan bahwa jika kelak saya merasa bahagia di kehidupan, jangan lupakan saudara, meskipun kebahagiaan itu hanya sedikit yang kau rasakan. Sampai sekarang ayah telah tiada, petuah itu menjadi warisan abadi dari ayah yang tetap kami jaga. Bahkan di tengah-tengah konflik sekalipun, warisan ayah ini selalu mengingatkan dan mengikatkan kami bersama sebagai kakak-beradik.

Saya pun teringat akan suatu pesan yang tertulis di dalam Alkitab sebelum Yesus terangkat ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman,” (Mat. 28:18-20). Pesan ini diberikan Yesus kepada murid-murid untuk memperlengkapi mereka kelak setelah kepergian-Nya, sama halnya pesan seorang ayah kepada anak-anaknya. Pesan yang merupakan Amanat Agung ini akhirnya dapat kita lihat penggenapan dan kuasanya hari ini. Melalui murid-murid, Injil telah diberitakan hampir ke seluruh penjuru dunia. Bahkan hingga saat ini, Amanat Agung terus dijalankan tiada henti sampai Tuhan Yesus datang kembali.

Sebagai wanita Allah, kita pun menerima hak waris yang sama untuk dapat menjalankan dan menghidupi Amanat Agung. Namun sayangnya, tidak sedikit di antara kita yang ragu-ragu dan bertanya-tanya bagaimana menjalankan amanat ini, bahkan ada juga yang merasa takut, merasa terbebani oleh tuntutan sehingga enggan menjalankannya. Mari kita melihat kembali tujuan dari Amanat Agung itu sendiri: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Pesan ini memiliki kuasa karena Sang Pemberi Pesan itu sendiri menjamin bahwa segala kuasa ada di dalam tangan-Nya. Bukankah ini menjadi kekuatan bagi kita bahwa dalam tantangan dan penderitaan sebesar apa pun, ketika kita menjalani amanat ini, kita tahu Ia tetap memegang kendali.

Sebenarnya, Amanat Agung tidak bisa dilepaskan dari keseharian kita, sebab orang-orang di sekitar kita otomatis senantiasa melihat dan menilai status kita sebagai anak-anak Allah. Sebagai wanita, sesungguhnya kita memiliki potensi yang sangat luas dan cara yang beragam untuk menjalankan Amanat Agung. Oleh karena itu, Amanat Agung bukan hanya berkaitan dengan berapa banyak jiwa yang kita jadikan pengikut Kristus, melainkan sudah berapa banyak orang-orang di sekitar kita yang melihat Kristus dan menjadi terdorong untuk memberi diri dipimpin oleh Kristus juga melalui teladan kita dalam hal perilaku dan perkataan. Di rumah, sudahkah kita menceritakan tentang kasih Kristus kepada suami dan anak-anak sehingga mereka memiliki kerinduan untuk menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka? Di kantor, sudahkah perilaku kita sebagai karyawan mencerminkan Kristus dalam hal hidup jujur, bersikap ramah, tidak berkata-kata dusta atau menebar kebohongan, dan sebagainya? Di lingkungan tempat tinggal, sudahkah tetangga kita merasakan kasih Kristus lewat apa yang kita lakukan sehari-sehari seperti menolong mereka yang membutuhkan bantuan, menyapa ketika bertemu, mengucapkan selamat kepada mereka yang sedang merayakan hari raya, atau terlibat dalam pertemuan-pertemuan rukun tetangga? Dalam setiap konteks dan segala hal di keseharian kita, semua ini bisa kita lakukan untuk menjalankan Amanat Agung.

Seperti halnya pesan ayah kepada anak-anaknya, Amanat Agung pun bukan sekadar pesan; ini perintah yang dapat kita lakukan dan kuasanya menjadi kekuatan bagi kita karena karena janji dari Sang Pemberi Pesan itu, “Ia menyertai kita senantiasa sampai kesudahan zaman.” Maka, sudah selayaknya kita bersemangat menjalankan Amanat Agung dalam hidup kita sehari-hari.

Pertanyaan refleksi:
1. Seberapa sering Anda sadar bahwa keselamatan yang Anda terima adalah sebuah anugerah?
2. Seberapa sering Anda menyadari bahwa hidup sehari-hari Anda adalah “etalase” karya anugerah keselamatan di dalam Kristus?
3. Sejauh mana pengaruh Anda dirasakan oleh orang-orang di sekitar Anda, baik di tengah-tengah komunitas orang percaya dan orang tidak percaya?
4. Jika Anda menyadari bahwa selama ini Anda kurang terlibat dalam komunitas di lingkungan Anda tinggal, mulailah lakukan tindakan nyata. Hal praktis apa yang bisa mulai Anda lakukan? Libatkan diri Anda dan lakukan Amanat Agung-Nya!

2019-10-11T10:47:36+00:00