Peyek Ayu

Memasak adalah kegiatan yang aku suka, bahkan sejujurnya merupakan suatu bentuk stress release bagiku secara pribadi; kadang saat lelah dengan berbagai pemikiran atau selepas perjalanan ke luar kota, aku akan mengalokasikan me time khusus dengan berbelanja ke pasar dan memasak. Aku selalu menikmati seluruh prosesnya. Aku rela pulang pergi pasar dengan berjalan kaki, dilanjutkan dengan langsung “mengeksekusi” hasil belanjaan menjadi bermacam-macam masakan. Namun… kalau harus memasak setiap hari, ternyata urusannya jadi berbeda.

 

Sejak pandemi Covid-19 dinyatakan masuk ke Indonesia pada akhir Februari 2020, yang diikuti dengan kebijakan PSBB di kota-kota selama lebih dari tiga bulan, masa karantina #DiRumahAja otomatis membuat aku hampir sepanjang hari ada di dapur. Dua minggu pertama hingga sebulan, rasanya aku masih bersemangat karena ada motivasi tersendiri untuk menyediakan lauk pauk dan kudapan bagi seisi rumah, tetapi setelah lewat dari sebulan aku mulai memasuki masa jenuh dan lelah karena rasanya setiap hari harus berpikir keras, “Besok mau masak apa, ya…?”

 

Di tengah-tengah mengalami kelelahan dan kejenuhan ini, aku pun mengambil waktu untuk merenung. Perlu rasanya aku mengambil waktu tenang secara pribadi. Aku ini memasak untuk apa dan karena apa? Mengapa aku sebelumnya bisa menikmati waktu memasak tetapi sekarang tidak bisa menikmatinya lagi? Dalam doa, aku bertanya kepada Tuhan, dan akhirnya mendapati jawaban-Nya bahwa itu semua kembali kepada hatiku, yaitu sejauh mana aku memaknai apa yang aku lakukan, termasuk aktivitas memasak. Memasak dengan hati berbeda dengan sekadar mengerjakan aktivitas masak itu sendiri. Segala sesuatu yang dilakukan dengan segenap hati akan mendatangkan sukacita. Aku pun kembali ke suatu esensi yang penting: kembali ke hati.

 

Hari ini, aku memulai aktivitas memasak dengan melibatkan hati. Tiba-tiba saja, aku menyadari bahwa aku sedang merasa rindu dan kangen kepada almarhumah Ibu. Aku membayangkan wajah Ibu yang dipanggil Tuhan hampir setahun yang lalu. Hari ini tepat sebelas purnama Ibu berpulang… Tak terasa, air mata aku menetes, “Tuhan… aku kangen sama Ibu,” jerit hatiku. Sontak seiring dengan jeritan hati itu, aku tersadar bahwa Ibu telah banyak meninggalkan warisan resep masakan di rumah yang aku kenal sejak kecil.

 

Aku memang selalu senang menemani Ibu memasak di dapur, walaupun Ibu jarang mengizinkan aku ikut memasak. Mungkin aku dianggap malah mengganggu Ibu… Namun, aku ingat jelas bahwa setiap kali waktu memasak tiba dan aku ada di dapur bersama Ibu, pasti ada pembicaraan ringan di antara kami di sela-sela aktivitas memasak itu.

 

Kali ini, aku teringat salah satu resep kudapan yang Ibu sering buat, yang ingin sekali kucoba: rempeyek. Sambil membayangkan wajah Ibu di benakku, aku mulai menyiapkan bahan-bahan yang aku ingat Ibu dulu pasti siapkan juga sebelum menggoreng peyek. Kacang tanah, teri medan, tepung beras, daun jeruk, serta bumbu-bumbunya, bawang merah, kemiri, kencur, ketumbar, dan garam. Oh ya, Ibu kadang pakai kapur sirih juga supaya peyek-nya jadi kemremes – ini istilah Ibu untuk hasil akhir yang garing dan nikmat. Peyek adalah kudapan umum yang tersedia di mana-mana dan biasanya dimakan berteman sayur pecel, tetapi bagiku peyek buatan Ibu selalu terasa istimewa.

 

Proses pembuatan peyek memerlukan waktu dan ketelitian. Mulai dari menyiapkan bahan-bahan dan bumbunya, merajang dan membuat adonan yang pas (tidak boleh terlalu encer atau terlalu kental), dan seterusnya. Selama proses ini, hatiku larut dalam kenangan akan setiap obrolan ringan bersama Ibu. “Ambu kencure kudu methu,” (“Harum kencurnya harus tercium keluar…”) itu yang dulu Ibu sering ingatkan. Kencur meningkatkan rasa peyek jadi lebih segar, apalagi ditambah irisan daun jeruk. “Godong jeruke kudu dirajang alus, nek kasar dadine elek” (“Daun jeruknya harus diiris halus, kalau kasar jadinya jelek…”). Ah… setiap perkataan Ibu ternyata kini jadi sangat berharga untuk dikenang. Kubiarkan saja air mataku terus menetes…

 

Memasuki tahap menggoreng, wajan harus disiapkan dengan api sedang dan tuangan minyak goreng cukup banyak untuk memastikan adonan peyek nanti tercelup minyak secara sempurna, sehingga hasil tingkat kematangannya rata. Selain itu, seluruh permukaan wajan harus “disiram” minyak agar nanti waktu dituang adonan peyek tidak lengket di permukaan wajan.

 

Nah… inilah waktunya beraksi. Sambil mengaduk adonan yang sudah dicampur dengan bumbu rempah, menyendoknya dengan centong sayur, menambahkan sejumput kacang tanah yang sudah dipotong kasar dan irisan halus daun jeruk, aku pun menuang adonan peyek ke wajan. Saat itulah, tiba-tiba ingatan akan perkataan Ibu berikutnya muncul, “Nek kowe arep nggawe peyek atimu kudu tenang, tentrem, ojo kemrungsung… Nek iku dilakoni, mengko dadine peyekmu bakal ayu.” (Kalau kamu ingin membuat peyek, yang penting hatimu harus tenang dan tenteram, jangan gundah dan galau. Kalau kamu lakukan begitu, peyek buatanmu bakal jadi cantik.) Kali ini hatiku pecah dalam tangis. Aku kecilkan api kompor dan sambil membalik gorengan peyek, hati ini dipenuhi bukan saja dengan kerinduan akan Ibu, tetapi juga dengan rasa syukur yang membuncah di hati. Betapa Ibu dalam segala kesederhanaannya telah mewariskan nilai kehidupan yang sangat berarti dan dalam maknanya, yaitu melakukan dari hati dan dengan segenap hati. Ibu yang pergi dalam diam sebelas bulan yang lalu rupanya hidupnya terus berbicara, terutama bagiku secara pribadi.

 

Siang ini, setelah selesai menggoreng semua adonan peyek dan menyimpannya di wadah tertutup, aku bersyukur. Betapa indahnya kesempatan yang Tuhan berikan untuk aku belajar selalu kembali kepada esensi: melakukan segala hal dari hati dan dengan segenap hati. Sejenak, aku duduk sendiri di dapur dan menaikkan doa dari hati, “Bapa di surga, aku sungguh bersyukur untuk Ibu, yang sudah melahirkan dan membesarkanku, membekaliku dengan begitu banyak nilai-nilai kehidupan sebagai perempuan, istri, dan ibu juga. Terima kasih untuk setiap kenangan indah lewat potongan peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari, yang begitu berharga untuk dikenang dan terus diperjuangkan dalam kehidupanku sendiri.

 

Amsal 10:7a : Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat.

 

Refleksi Pribadi:

  1. Bagaimana engkau menjalani hari-harimu saat ini? Apakah engkau pernah atau sedang mengalami kejenuhan?
  2. Kapan terakhir kali engkau mengerjakan aktivitas harianmu dengan segenap hati?
  3. Berapa seringkah kesadaran akan kehadiran Tuhan dan keterlibatan-Nya dalam keseharianmu engkau sadari serta engkau alami?
  4. Buatlah komitmen pribadi untuk engkau kembali melibatkan Tuhan dalam segala hal setiap hari.
2020-07-25T09:13:18+00:00