///“Upil-upil kecil”

“Upil-upil kecil”

 

Beberapa kali Bu Wati mengingatkan dan menegur ketika melihat dan menemukan Laras mengupil dan memasukkan upil itu ke dalam mulutnya, tetapi sepertinya teguran dan peringatan itu tidak mempan. Makin lama Laras terlihat makin menikmati kebiasaan itu. Saat ditegur, Laras justru tersenyum-senyum sambil menjawab, “Enak lho, Ma…” Rasanya habis akal Bu Wati menghadapi kebiasaan baru putrinya itu.

Suatu hari saat membaca dan merenungkan firman Tuhan, Bu Wati membaca 2 Raja-raja 4:8-11 tentang perempuan Sunem: “Pada suatu hari Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan. Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: ‘Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus. Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana.’ Pada suatu hari datanglah ia ke sana , lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di situ.” Rupanya, perempuan Sunem ini tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga kaya ide dan kreativitas, karena kepekaannya terhadap kebutuhan orang lain. Dari perenungan ini, Bu Wati belajar untuk bersikap peka terhadap kebutuhan orang lain.

Selanjutnya, salah satu kisah lain di Alkitab memotivasi Bu Wati, yaitu kisah tentang Dorkas pada Kisah Para Rasul 9:36-39, “Di Yope ada seroang murid perempuan bernama Tabita — dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: ‘Segeralah datang ke tempat kami.’ Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.” Kisah ini menjadi inspirasi yang luar biasa! Dorkas tidak dicatat sebagai perempuan kaya, tetapi dia tetaplah dicatat sebagai perempuan yang bukan hanya peka pada kebutuhan di sekitarnya (membuatkan baju dan pakaian untuk para janda di Yope) tetapi juga kreatif melakukan sesuatu untuk orang lain lewat potensi yang dimilikinya, yaitu menjahit.

Dari proses perenungan pada hari itu, Bu Wati mendapatkan pencerahan bahwa Tuhan adalah sumber segala kreativitas, yang menolong untuk menghadapi setiap tantangan, ujian dan persoalan hidup kita setiap hari. Hal yang menarik dari perenungan itu adalah bahwa kreativitas ternyata lahir saat kita melihat adanya kebutuhan atau masalah. Bu Wati mulai mengerti bahwa untuk segala sesuatu Tuhan pasti menolong dan memberikannya hikmat serta kreativitas, bukan hanya untuk hal-hal yang besar tetapi juga termasuk hal-hal kecil dan sederhana, yaitu kebutuhan dan masalah yang sehari-hari ditemuinya saat menjalankan perannya sebagai ibu dan istri.

Selanjutnya, teringatlah Bu Wati akan Laras, putri kecilnya, dengan kebiasaan barunya. Dan mulailah Bu Wati berdoa, “Tuhan, berikan kepadaku hikmat bagaimana menolong Laras untuk tidak mengupil dan makan upilnya itu. Apa yang harus kulakukan, Tuhan?” Doa singkat dan sederhana itu seolah bertumbuh dalam hatinya menjadi iman bahwa Tuhan pasti akan menolongnya.

Malam harinya sebelum tidur, seperti biasa dilakukan setiap hari, Bu Wati membacakan 1 pasal dari Alkitab untuk Laras. Biasanya Laras menyukai kisah-kisah seperti Ester, Rut, atau Rode. Setelah selesai membaca, Bu Wati bertanya, “Laras, seperti apa sih rasanya makan upil?” Sejenak Laras melihat kepada ibunya lalu tersenyum, “Kok Mama tanyanya lucu, sih? Ngupil itu enak lho Ma… Kalau rasanya, ya asin-asin gimana, gitu…” jawab Laras dengan wajah polosnya. Bu Wati tidak bisa menahan geli di hatinya mendengar jawaban anaknya. Tiba-tiba, Tuhan berbicara di hatinya, “Tapi itu kotoran. Bilang ke Laras bahwa itu kotoran.” Dan Bu Wati pun segera taat. Ia menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan semua organ dalam tubuh manusia itu ada gunanya. Di dalam hidung ada bulu-bulu halus yang fungsinya seperti saringan untuk menyaring kotoran yang terhirup dan masuk melalui lubang hidung saat kita bernapas. Jadi, upil adalah kotoran yang tersaring itu, dan kalau dimakan artinya kita memakan kotoran. Penjelasan itu mengalir lepas begitu saja dari mulut Bu Wati dan Laras menyimaknya dengan penuh perhatian.

Setelah selesai menjelaskan, Bu Wati justru baru tersadar bahwa apa yang baru saja dia lakukan itu semata-mata adalah pertolongan Tuhan. Teringatlah dia akan doanya di hari itu, termasuk dengan pertanyaan di hatinya untuk menolong putrinya lepas dari kebiasaan buruk itu, “Apa yang harus kulakukan, Tuhan?” Ternyata, Tuhan sungguh menolongnya, karena selanjutnya Bu Wati diingatkan bahwa putrinya Laras ini suka menyanyi. Maka, mulailah Bu Wati merangkai kata-kata dan memasukkannya dalam nada-nada sederhana. Jadilah lagu “Upil-upil kecil.”

Malam itu Laras tidur dengan senyum kecil di bibirnya. Hati Bu Wati tersentuh melihat senyum itu dan berkata dalam hatinya, “Tuhan… Terima kasih untuk pertolonganMu.” Sejak malam itu, beberapa kali Bu Wati mengajak Laras menyanyikan lagu ciptaan mereka bersama. Biasanya dinyanyikan sehabis membaca Alkitab dan menjelang tidur. Laras menyukai lagu itu  dan tanpa sadar dia bersenandung sendiri.

Sore itu, saat Bu Wati mendengar kembali senandung putri kecilnya, dia mulai memperhatikan bahwa kebiasaan mengupil dan makan upil itu tidak lagi dilakukan oleh Laras. Rupanya lagu sederhana itu mengena di hati Laras dan memberikan pengertian, sehingga dia tidak lagi melakukan kebiasaan itu. Peristiwa kecil ini menyadarkan dan meneguhkan Bu Wati bahwa Tuhan itu sungguh penolong yang nyata di dalam segala sesuatu; termasuk di dalam hal yang sangat “sehari-hari”, yaitu mendidik anak. Betapa berharganya memiliki Tuhan dalam hidup ini! Dia adalah “Penolong Besar” yang menolongnya, si penolong kecil, untuk berdampak kepada orang-orang lain di hidupnya.

Amsal 9:10
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

 

Refleksi diri:

 

  • Seberapa sering Anda menyadari dan melibatkan Tuhan dalam menjalani rutinitas hidup Anda sehari-hari?
  • Seberapa sering Anda berdialog dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari?
  • Seberapa sering Anda percaya dan menyadari bahwa sekecil atau sebesar apapun persoalan dan tantangan hidup ini, Tuhan adalah Allah yang sanggup menolongmu?
  • Mulailah membangun hubungan pribadi yang intim dan intens dengan Tuhan dan nikmati kehadiranNya setiap saat dalam hidupmu!

 

 

2019-10-17T14:40:30+07:00