///Rasa itu, cinta itu

Rasa itu, cinta itu

Sore itu terasa gamang bagi Astri dan Christy dan Helli. Dua sahabat itu duduk tercenung, masing-masing menatap gelas minumannya. Astri menatap nanar cappuccino latte-nya, sementara Christy terus mengaduk iced lychee tea-nya tanpa tahu mengapa. Percakapan mereka berhenti begitu saja sejak mereka bicara soal “rasa itu”

Masing-masing seolah sibuk dengan pikirannya sendiri, bahkan tembang apik dari Loren Allred, “Never Be Enough” yang beken sejak film “The Greatest Showman” tayang seolah lewat begitu saja di telinga mereka masing-masing. Tanpa arti, tanpa keindahan, tanpa nyawa… Sebungkam hati dan pikiran mereka berdua.

Tiba-tiba, Christy berhenti mengaduk minumannya dan suaranya memecah keheningan, “Tri… Percayalah, yang kamu lakukan itu dosa, itu bukan sekadar masalah perasaan. Apa pun namanya… Jangan sampai kamu tertipu karena ‘bungkusannya’, jujurlah dengan hatimu tentang ‘isinya’.” Mata Christy kini menatap tajam wajah sahabatnya.

Astri mengalihkan pandangan kepada sahabatnya. Dia menatap jauh ke dalam mata Christy sambil menghela napas panjang, seolah mencari pemakluman, “Iya… Aku tahu kamu pasti akan ngomong itu, Chris. Tapi, gimana dong dengan semua rasa yang ada di hatiku ini? Aku sudah mentok. Gak bisa mikir lagi. Otak dan hatiku saling bertentangan, aku tahu ini nggak bener tapi rasa itu terlalu kuat! Aku nggak sanggup kalau harus pisah dari dia!” Nada suara Astri terdengar putus asa sekaligus kesal, tetapi juga terselip nada berbunga-bunga di dalamnya. Bagaimana pun juga, mereka berdua perempuan, yang punya hati dan perasaan yang hanya bisa diresapi oleh sesama perempuan.

Senyum tipis muncul di bibir Christy, seolah dia memahami apa yang dirasakan sahabatnya. Pelan, dia menjawab, “Iya… aku juga ‘ngerti, aku ‘kan perempuan. Masalahnya rasa di hatimu itu jatuh tidak pada tempatnya, bukan semestinya dengan pria itu! Nah, kayaknya kamu perlu pakai otak lebih daripada pakai hatimu, nih. Bayangin dong, apa bahagia kamu jalan sama suami orang, yang punya anak istri dan keluarga sendiri? Apalagi dari ceritamu, cowok itu hanya pernah jadi bagian dari masa lalumu dulu. Nggak lebih dari itu, ‘kan? Belum lagi sekarang dia lagi dalam keadaan terpuruk secara ekonomi. Coba hitung Tri, berapa banyak sudah kamu bantu dia? Aku tahu kamu orang yang tulus dan baik, tapi kamu perlu sadar, model pria yang kayak gini bukan untuk dibantu. Dia hanya memperdaya kamu! Dia tahu kok, kamu baik dan dia punya satu ‘kartu saktinya’ karena kamu masih suka sama dia… Dia tahu kamu mau bayar ‘hutang masa lalu’-mu sama dia, hanya itu yang tersisa. Sekalipun kamu habis-habisan demi dia, suatu saat dia bisa tinggalin kamu. Hidupmu terlalu berharga untuk sekadar mempertahankan seorang pria seperti dia!” Rasanya semua kata-kata yang sudah membuncah di hati Christry kini tumpah dan baru berhasil terungkap kepada sahabatnya.

Astri terdiam, hatinya tercekat mendengar apa yang sahabatnya katakan. Hati kecilnya membenarkan apa yang dia dengar barusan, tetapi di sisi lain sesudut kecil di hatinya juga seolah meminta dipahami untuk menikmati dan melanjutkan rasa itu. Detik berikutnya, helaan napas panjang saja yang terdengar di antara keduanya. Setelah itu hening, dan akhirnya mereka pulang ke rumah dengan pikiran masing-masing, berpisah dalam diam yang tak tuntas.
————————-
Hari ini, hampir setahun berlalu sejak diam itu, kedua sahabat itu bertemu kembali. Suasana kali ini berbeda. Tembang yang mengiringi lawas, The Moon Represents My Heart, mengalun lewat tiupan merdu saksofon Kenny G. Walaupun sore itu tidak mendung, Christy melihat jelas mendung di wajah sahabatnya. Astri akhirnya menghubungi Christy melalu WhatsApp untuk bertemu sore ini. Memang sejak pertemuan setahun yang lalu, mereka hampir tak pernah saling kontak, Astri menarik diri, sementara Christy sebisa mungkin masih berusaha menjalin tali persahabatan di momen ulang tahun, Paskah, Natal dan tahun baru, atau tanggal-tanggal penting lainnya, dengan mengucapkan selamat dan menanyakan kabar. Tidak ada lagi nasihat dari Christy untuk sahabatnya itu, selain doa yang tidak ada putusnya supaya Tuhan berbicara secara pribadi dengan cara dan waktu-Nya bagi Astri. Sore ini, tampaknya waktu dan cara Tuhan itu tiba.

Hampir 15 menit Christy menunggu sahabatnya berbicara, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Astri. Yang terdengar hanya isak tangis dan sesekali Astri terlihat menutup matanya rapat-rapat, seolah ada yang ingin dibuangnya jauh-jauh dari hati dan pikirannya. Teringat pesan pendek yang diterima Christy pagi tadi, “Chris, aku pingin ketemu kamu… Sore ini di kafe langganan jam 18:00, yah.” Maka di sinilah sekarang mereka masing-masing duduk berhadapan dengan minuman favorit mereka, masih cappuccino latte dan iced lychee tea. Dalam diam dan tangis, hati mereka berdua seolah sedang berbicara satu sama lain. Bukan mulut dan kata-kata, tetapi mata dan setiap gestur mereka sarat bertukar makna.
Akhirnya terdengar suara lirih Astri, “Kamu benar Chris, semua yang kamu ngomong waktu itu memang benar. Aku yang bodoh, bebal, dan mengeraskan hatiku. Aku betul-betul menyesal dan aku mau bertobat.” Segera Christy menanggapi, “Apa yang terjadi?” Astri kembali terisak, bahkan kali ini bahunya sampai berguncang. Christy menunggu sambil perlahan mengusap lembut bahu Astri untuk menenangkan.

Setelah cukup tenang, Astri meneguk minumannya dan melanjutkan, “Seminggu ini aku betul-betul kacau. Ada wanita lain lagi. Aku bukan berurusan dengan istrinya, tapi wanita lain lagi. Ternyata memang tabiatnya seperti itu. Dan… kamu tahu nggak Chris, wanita lain itu adalah temanku waktu di SMA. Rasanya kali ini Tuhan tampar aku, aku betul-betul kacau… Seems that my whole world is now messed up! Cowok itu memang beneran jahat, dia dengan tenang ngaku semua yang dia lakukan sambil masih aja menyalahkan aku. Masa dia bilang mestinya aku nggak protes karena ‘toh istrinya aja nggak protes! Bayangin Chris, aku sampai nggak tahu mau ngomong apa waktu mendengar alasannya itu. Kamu tahu ‘kan berapa lama aku percaya dia selama ini? Berapa banyak aku bantu keuangannya? Aku betul-betul perempuan bodoh… begitu mudahnya ditipu!”

Christy berusaha mencerna dan berempati sambil mendengarkan, “Oh… Astri kena batunya!” Namun, yang keluar dari mulutnya singkat saja, “Terus…?” Astri pun lanjut menumpahkan semua isi hatinya, “Iya Chris, dia memang hanya mau memperdaya aku selama ini. Ini semua kebodohanku! Betul yang kamu pernah ingatkan aku, semua yang aku lakukan ini adalah dosa, bukan sekadar kelemahan perasaanku sebagai perempuan. Semua kebenaran yang aku tahu selama ini dulu serasa nggak bunyi di hatiku. Aku ketipu sama perasaanku! Ternyata, yang kamu bilang tentang utang masa laluku itu juga benar. Sekarang aku sadar, sampai kapan pun itu tidak akan terbayar dan memang nggak perlu dibayar. Tuhan Yesus sudah membayar lunas semua ketertolakanku!”

Kalimat terakhir itu seperti air sejuk terasa mengalir di hati Christy… “Terima kasih Tuhan, akhirnya sahabatku kembali kepada-Mu!” Kini tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Digenggamnya kedua tangan Astri dan dengan penuh kasih ditatapnya Astri, sahabatnya. Mereka berdua menangis bahagia. Yang satu tangisan pertobatan dan yang satu lagi tangisan bahagia karena menyaksikan seorang sahabat berani memutuskan untuk bertobat.

Alunan saksofon Kenny G. terus mewarnai pertemuan dua orang sahabat yang mengalami kebenaran dan kasih yang sejati. Bahwa kuasa doa bekerja nyata, bahwa ada konsekuensi dari setiap dosa yang dilakukan, tetapi juga bahwa cinta Tuhanlah kasih yang sejati yang tak pernah menipu.

Suara Astri terdengar lirih, “Chris, awalnya aku nggak bisa terima semua ini, tapi setelah tiga hari berlalu sejak aku tahu apa yang dia lakukan terhadapku, aku mulai bisa bersyukur. Aku bersyukur karena Tuhan sayang sama aku, walaupun didikan-Nya itu menyakitkan tapi aku tahu Dia lakukan itu karena kasih. Tuhan cinta aku, Chris! Aku bersyukur karena akhirnya aku terlepas dari ikatan asmara ini dan sekarang aku merdeka yang sesungguhnya! Semua yang pernah kamu ngomong hampir setahun yang lalu itu benar-benar aku alami. Thank you, Christy… Kamu tetap mau jadi sahabat di saat aku gagal dan melakukan kebodohan seperti ini. Thank you juga karena kamu tetap mau datang dan ketemu sama aku. Aku menemaniku belajar mengerti bahwa perasaanku itu dan buaian cowok itu bukan cinta; hanya kasih Tuhanlah cinta yang sejati!”

Christy merengkuh genggaman tangan Astri, “Ayo kita berdoa… Bapa di dalam surga, kami bersyukur untuk sore ini. Terima kasih karena Engkau nyata dalam setiap jalan-jalan-Mu, kasih-Mu berbanding sejajar dengan keadilan-Mu, kebenaran-Mu nyata menjaga langkah-langkah hidup kami. Aku bersyukur bahwa akhirnya Engkau menyatakan kasih dan kuasa-Mu dalam hidup sahabatku Astri. Terima kasih untuk panjang sabar dan kasih kemurahan-Mu. Pagari kami terus dengan kebenaran-Mu dan puaskan kami terus dengan kasih-Mu, karena hanya kasih dan kebenaran-Mu lah yang menjaga kami. Doa dan ucapan syukur ini kami naikkan di dalam satu nama yang ajaib, dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.”

1 Yohanes 2:1-6
“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

Pertanyaan refleksi:
1. Apakah Anda selama ini masih berkompromi terhadap dosa?
2. Apakah Anda sulit membedakan antara dosa dan kelemahan?
3. Dalam hidup Anda, di area mana yang Anda cenderung lemah terhadap dosa (keuangan, hubungan, keluarga, atau yang lain) dan sejauh mana Anda mendisiplin diri untuk menang?
4. Temukan kebenaran firman Tuhan yang menolong Anda menang, lalu bagikan pengalaman Anda kepada rekan dalam pemuridan!

*) kisah diatas adalah sebuah cerita fiksi

2019-10-11T10:53:30+07:00