Salon Amanda

Entah mengapa, sejak remaja rasanya memang kesanku salon kecantikan adalah tempat orang-orang sibuk memanjakan diri dan kebanyakan staf/karyawan salon punya “muka tip”… Dalam pikiranku, mereka ‘kan bekerja, pasti sudah menerima gaji tetap setiap bulan dari pemilik salon, tetapi mengapa untuk jasa yang mereka berikan, mengapa begitu mengharapkan tip? Bagiku, bukan masalah besarnya angka rupiah tip itu, tapi mentalitas itu rasanya bukan mentalitas kerja yang baik. Itu namanya bekerja karena imbalan. Apalagi, biasanya kepada tamu/pelanggan yang tidak memberikan tip, pandangan mata mereka seperti menilai, “Orang ini pelit…” Yah, begitulah… Setiap kali harus berurusan dengan salon kecantikan karena rambut ini sudah waktunya dirapikan, aku selalu berjuang dengan setiap rasa itu. Masalahnya, kali ini adalah waktu di mana aku harus berurusan dengan salon.

Biasanya aku pergi ke salon di dekat rumah karena di situ ada kapster yang sudah kenal jenis rambutku, jadi dia tidak akan mungkin salah potong atau membuat model potongan rambut yang tidak cocok dengan jenis rambutku. Rambutku memang agak ikal, cenderung kering, dan mengembang. Kalau salah model atau salah potong, itu artinya prahara….

Salonku ini adalah Salon Amanda, dan kapster langgananku adalah Pak Yo.
Pagi itu rasa malas itu kembali datang, padahal aku tahu rambutku sudah tidak berbentuk lagi. Sebenarnya waktu itu masih terlalu pagi dan mestinya Salon Amanda belum buka, tapi suamiku memutuskan untuk mengantarku lewat Salon Amanda; kalau buka, artinya itu waktunya rambutku dirapikan. Aneh… Pagi itu baru jam 8:25, tapi sudah ada tanda “BUKA” di depan salon. Suamiku dengan yakinnya berkata, “Kamu ‘kan potong rambut cuma sebentar, paling 10 menit, jadi aku tunggu kamu di mobil aja. ‘Dah, sana… Enjoy your time there!” Aku cuma tersenyum sambil berpikir, “Enjoy….? Hmm… apanya yang bisa dinikmati di salon, sih?”

Aku masuk dan disambut seorang perempuan muda yang bertugas sebagai resepsionis sekaligus kasir salon itu. Ini bukan mbak yang biasa bertugas. Orangnya beda, dan yang bikin aku jadi ilfil adalah dia duduk dengan wajah sebal, tanpa senyum, tanpa mengucapkan selamat datang atau selamat pagi.
“Aneh orang ini… Salon itu ‘kan menjual jasa pelayanan, mestinya mbok ya sambutannya jangan jutek begitu… Lagipula ini ‘kan masih pagi,” batinku. Aku pun langsung bertanya, “Pak Yo hari ini ada, Mbak ?” “Ada, Bu,” dia menjawab dengan singkat.
“Saya mau potong kering, Mbak. Sudah biasa sama Pak Yo.” Mbak ini memandangku sambil menjawab, “Tapi Pak Yo sudah ada tamu nanti jam 9:00, Bu”. Entah mengapa, kali ini aku justru agak mendesak, padahal biasanya kalo sudah dalam keadaan seperti ini aku akan mengalah dan memilih pulang. Kali ini tidak. Aku mencoba lagi, “Bisa diselipin tidak, Mbak? Saya tidak lama, kok. Cuma potong kering, biasanya juga cuma 10 menit selesai.” Rasanya kali ini aku jadi agak ngotot. Mbak yang jutek itu menjawab dengan enteng, “Saya tanya Pak Yo-nya.”

Tidak lama kemudian, keluarlah Pak Yo sambil membawa semua peralatannya dan mengarahkan aku duduk di salah satu kursi di ruangan salon. “Sini Mbak, di sini aja.” Aku pun duduk, tahu bahwa berikutnya Pak Yo akan bertanya aku mau potong rambut seberapa dan modelnya sama atau tidak seperti sebelumnya. Benar saja, ritual Pak Yo berjalan seperti biasa.

Yang berbeda kali ini adalah aku merasa seperti sedang diperhatikan. Ternyata, lewat cermin besar di depanku (seperti biasanya di salon-salon), aku bisa melihat dengan jelas si mbak resepsionis memandangi aku dengan pandangan penuh selidik. Kubayangkan kira-kira begini isi pikirannya, “Ini orang siapa, sih… kayaknya gue jarang liat tapi kok bisa-bisanya datang pagi-pagi dan nyelip, dan herannya Pak Yo kok mau potong rambutnya mendadak.” Memang, itu sih aku artikan sendiri pandangan mata si mbak, tapi entah apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya.

Iseng, aku bertanya kepada Pak Yo, “Salon ini bukanya jam berapa sih, Pak?” Pak Yo menjawab cepat, “jam 9:00, tapi kadang tamu yang mau creambath jam 8:00 sudah mulai datang. Saya biasanya mulai potong rambut jam 09:00.” “Lha, kalo gitu saya kepagian dong, Pak. Ini belum waktunya Pak Yo potong rambut, ‘kan? Apalagi tadi saya diberi tahu katanya jam 9:00 Pak Yo sudah ada janji dengan tamu yang mau potong rambut juga…” Aku mencoba mendapatkan penjelasan dan memastikan bahwa aku tidak salah bahwa pagi itu berarti Pak Yo mulai bekerja sebelum waktunya. Tapi Pak Yo justru menjawab enteng, “Tidak apa-apa, Mbak. Wong saya juga nganggur. Lagipula tamunya nanti jam 9:00 baru datang.”

Aku pun tersenyum, “Oooo…..” Kami sudah sama-sama saling paham dan setuju. Kemudian selama Pak Yo memotong rambutku, muncullah banyak rencana di kepalaku. Aku berniat bertanya kepada si mbak resepsionis, mengapa dia jutek begitu pagi-pagi, lalu aku juga ingin menasihati bahwa sebaiknya dia tidak bersikap begitu karena dia bekerja digaji dan salon menjual jasa pelayanan ke pelanggan, sehingga tamu pasti tidak nyaman disambut dengan sikap jutek begitu. Tak terasa semua itu memenuhi kepalaku dan aku sudah siap untuk mendatangi si mbak begitu Pak Yo selesai memotong rambutku.

Jam pun menunjukkan pukul 8:43. Selesai sudah ritual potong rambut hari itu bersama Pak Yo. Persis 10 menit seperti dugaan suamiku.
Aku langsung berdiri, membereskan tas, dan berjalan ke si mbak resepsionis sekaligus kasir. Aneh! Semua hal yang tadi memenuhi kepalaku seperti menguap begitu saja. Di hatiku serasa ada yang mengingatkan, “Coba tanya, dia sakit atau tidak,” jadi pertanyaan itulah justru yang keluar dari mulutku. “Mbak, sakit, ya?” Kali ini si mbak menjawab sambil tersenyum, “Iya, Bu… Oh ya, potong kering jadinya 50 ribu, Bu.” Sambil mengeluarkan uang dari dompetku, muncul lagi pertanyaan lain yang aku sama sekali tidak terpikir sebelumnya, “Sakit kepala ya, Mbak?” Nah, kali ini sambil si mbak menulis nota pembayaranku dia tersenyum makin lebar sambil meringis, “Iyaa Bu, kok Ibu tahu, sih? Makasih ya, Bu…” Hatiku tiba-tiba berubah, ada rasa hangat mengalir dan tanpa sadar kutepuk lengan si mbak sambil menjawab, “Saya doakan cepat sembuh sakit kepalanya, ya… Makasih Mbak, saya mungkin datang ke sini lagi 4-5 bulan lagi.” Si mbak menjawab ramah, “Lama banget, Bu.” Aku tersenyum tanpa penjelasan, “Hehehe…. Iya, Mbak.”
Keluar dari Salon Amanda, hatiku rasanya ringan sekali. Aku berjalan ke mobil sambil tersenyum-senyum sendiri, sampai suamiku heran, “Ada apa?” Dengan bersemangat aku berkata, “Nanti aku cerita… Awalnya mengesalkan tapi akhirnya jadi lucu, sedikit aneh, dan ujungnya aku bahagia sekali pagi ini!” Sayang, saking bersemangatnya aku baru sadar bahwa aku lupa menanyakan nama si mbak itu siapa. Duh! Syukurlah aku masih ingat wajahnya, jadi nanti saat datang lagi aku akan tanyakan siapa namanya (semoga si mbak masih bekerja di Salon Amanda saat itu).

Melewati hari itu, aku belajar bahwa Tuhan teramat jauh lebih tahu yang terbaik. Ketika kita berada di suatu situasi yang paling kita tidak suka sekalipun, Dia tetap bekerja dengan kuasa dan kedaulatan-Nya yang sempurna untuk memakai kita yang serba terbatas sebagai alat-Nya. Ah, pelajaran hari itu sangat berharga bagiku. Aku bersyukur aku memilih taat dan tidak berdalih-dalih waktu Tuhan mengingatkan ini-itu yang sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya. Memang, bertemu dan mengalami Tuhan sehari-hari membuat hidup ini jadi lebih hidup!

(Dari kisah nyata, dituangkan dalam bentuk cerita pendek)

Pertanyaan refleksi:
1. Berapa sering Anda mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari?
2. Jika terjadi hal yang tidak sesuai dengan keinginan, apa yang biasanya pertama kali muncul di hati dan pikiran Anda?
3. Berapa lama biasanya sampai Anda menyadari pikiran yang sia-sia/tidak benar itu dan memutuskan untuk memilih melibatkan Dia untuk menentukan apa yang mestinya Anda lakukan?
4. Kapan terakhir kali Anda mendengar suara Tuhan berbicara kepada diri Anda?

 

“Do things for people not because of who they are or what they do in return, but because of who you are.”
(Mother Theresa)

2019-10-12T10:40:41+07:00