///Sukacita yang penuh

Sukacita yang penuh

Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. (Yoh. 15:9-11) Membaca dan merenungkan petikan ayat di atas, saya jadi melihat secara jelas bahwa Allah menghendaki agar setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki sukacita yang penuh. Namun pertanyaannya, sukacita seperti apakah yang Allah kehendaki?

Terkadang sukacita diidentikkan dengan kebahagiaan atau kegembiraan, padahal keduanya tidak sama. Dalam bahasa Inggris, ada perbedaan makna kata “joyfulness” dan “happiness”. Joyfulness (“sukacita”) adalah sikap atau cara berpikir dalam menghadapi segala keadaan, yang tidak tergantung pada keadaan itu. Dalam konteks Firman Tuhan, sikap atau cara berpikir seperti ini lahir karena kasih Allah, yaitu karena kita percaya bahwa Allah mengasihi kita dan selalu bersama dengan kita. Inilah yang Yesus maksudkan dengan sukacita yang penuh karena tinggal di dalam kasih-Nya di ayat tadi. Sementara itu, happiness adalah perasaan bahagia atau gembira yang muncul ketika keadaan berjalan seperti yang kita harapkan (sehingga sangat tergantung pada keadaan itu sebagai penyebabnya).

Dunia mengajarkan kepada kita bahwa untuk merengkuh kebahagiaan kita perlu memiliki uang dan harta benda yang berlimpah, disukai banyak orang, melakukan hal-hal yang kita sukai, menikmati makanan-makanan yang enak, mengunjungi tempat-tempat yang menarik, dan hal-hal lainnya yang bisa memuaskan diri kita. Tetapi, nyatanya keadaan tidak melulu seperti yang kita harapkan. Fakta kehidupan menunjukkan bahwa ada kalanya kita bahagia dan ada kalanya kita bersedih (atau berlimpah harta dan mengalami kekurangan, atau makan makanan lezat dan makan makanan yang biasa-biasa saja). Dunia sendiri tak mampu menjamin kebahagiaan itu akan kekal menjadi milik kita, meski hal-hal itu kita penuhi. “Syarat” kebahagiaan bahkan terus-menerus berubah dan berkembang menjadi lebih rumit. Tak heran, jika kita terus mengikuti standar kebahagiaan dunia yang terus berubah-ubah ini, kebahagiaan kita pun ikut berubah-ubah. Akibatnya, kita merasa tidak mampu bersukacita, bahkan terancam berujung pada depresi, walaupun kita tahu Yesus sendiri sudah menjamin sukacita kita.

Harus diakui bahwa dalam hal sukacita, wanita seolah memang memikul beban yang besar yang menyulitkan. Tanggung jawab wanita sangat besar, berkeluarga atau pun masih lajang. Sudah menjadi hukum di tengah-tengah masyarakat bahwa tugas pengasuhan anak ada di tangan wanita, tugas-tugas domestik atau pekerjaan rumah tangga ditangani oleh wanita, bahkan tak sedikit wanita dituntut turut membantu suami mencari tambahan nafkah bagi keluarga. Alhasil, para wanita yang menjalankan ketiga tanggung jawab ini secara bersamaan sering kali mudah kehilangan sukacita. Kalau Anda adalah wanita yang mengalami hal ini juga, ketahuilah bahwa Allah menghendaki Anda memiliki sukacita-Nya yang penuh itu. Namun, jangan lupa bahwa iblis pun tidak menyukai Anda bersukacita. Iblis akan berusaha mencuri setiap titik sukacita dalam hidup Anda, karena ia tahu betul dampak luar biasa dari hati seorang wanita yang bersukacita. Mari kita bayangkan sejenak. Seorang ibu yang pemarah akan menghasilkan anak-anak yang labil emosinya, tidak mampu mengekspresikan diri, bahkan munngkin menjadi perfeksionis dan ambisius. Seorang istri yang suka mengeluh akan membuat para suami berpaling kepada hal-hal yang tidak diinginkan yang pada akhirnya menghancurkan pernikahan itu sendiri. Seorang wanita lajang yang tak pernah puas akan banyak menuntut sekelilingnya, menghancurkan hubungan-hubungannya dalam persahabatan maupun komunitas, dan akhirnya rentan menderita gangguan mental. Betapa ngerinya! Sebaliknya, wanita yang memiliki sukacita Allah di hatinya, hidupnya akan berjalan menurut sukacita itu. Anak-anaknya berkembang dalam situasi emosi yang sehat, suaminya semakin mengasihinya, dan hubungan-hubungannya bertumbuh positif dalam kasih. Lalu, bagaimana menjadi wanita yang bersukacita?

Sebenarnya, kalau kita kembali kepada Firman Tuhan, sangat mudah untuk memiliki sukacita yang penuh dan tak tergantung pada situasi luar. Seperti Yesus sendiri jelaskan, sukacita sangat dipengaruhi oleh hubungan kita dengan Tuhan. Tinggal di dalam kasih Allah akan membuahkan sukacita. Artinya, sukacita mengalir ketika kita menyadari bahwa kasih-Nya telah menebus dosa-dosa kita, ketika kita mengasihi Allah dengan menaati perintah-perintah-Nya, dan ketika kita menjaga keintiman hubungan kasih dengan Allah melalui senantiasa berada di dalam hadirat Allah. Kadang, kita akan “lupa” bahwa sukacita itu ada di dalam kita, yaitu saat situasi mengusik rasa bahagia atau rasa gembira kita. Saat itu terjadi, datanglah kepada-Nya. Kembalilah kepada kasih-Nya. Janji-Nya sendiri, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan,” (Mat. 11:28-30). Janji ini cukup untuk membuat kita tetap bersukacita setiap hari dan setiap saat, apa pun situasi yang sedang kita hadapi. Iman akan janji-janji Allah (yang diberikan-Nya karena kasih-Nya kepada kita) akan membantu kita memiliki cara pandang dan cara berpikir yang berbeda. Hasilnya, kita dapat memahami sukacita yang telah diberikan-Nya di dalam diri kita dan kita menyadari bahwa kasih-Nyalah yang terpenting untuk menjamin sukacita kita, bukan situasi yang terjadi.

Nah, pilihan ada di tangan Anda, apakah Anda mau memiliki sukacita penuh yang dijamin Allah ataukah Anda hanya ingin sekedar merasakan kebahagiaan atau kegembiraan hidup yang berubah-ubah?

“The Joy of the Lord is my strength.” (Neh. 8:10)

Refleksi pribadi:
* Apakah yang selama ini membuat Anda bersukacita?
* Apakah “syarat” yang tepat untuk mendapatkan sukacita yang penuh?
* Apakah yang dapat menolong Anda untuk tetap kuat dan bersukacita, sekalipun situasi tak berjalan seperti yang Anda harapkan?

2019-10-17T10:24:09+07:00