///Wanita yang dikasihi Allah

Wanita yang dikasihi Allah

Anak pertamanya diberi nama Ruben, yang berarti “Ia telah melihat penderitaanku”. (Kejadian 29:32, “Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: ‘Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.’”). Saat itu, Lea berpikir bahwa Allah telah memperhatikan kesusahannya. Ia percaya bahwa statusnya yang kini menjadi seorang ibu tentulah mendatangkan kasih dari suaminya. Ini artinya, Lea percaya bahwa siapapun dapat mempercayakan dirinya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Allah telah berjanji bahwa bila seseorang berseru kepada Allah, Ia akan menjawab dan menunjukkan keselamatan yang datang daripadaNya.

Anaknya yang kedua diberi nama Simeon, yang berarti “Tuhan telah mendengar” (Kejadian 29:33, “Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: ‘Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikanNya pula anak ini kepadaku.’ Maka ia menamai anak itu Simeon.”). Kerinduan yang sangat wajar dari seorang istri untuk mendapat kasih dari suaminya ini masih tetap ada di dalam hatinya. Meskipun ia tetap tidak memperolehnya, Lea menjadi semakin mengerti tentang Allah. Kehidupannya diperkaya oleh kepedihan dan menjadi dewasa karena ujian. Kepercayaannya kepada Allah semakin bertambah.

Saat Lewi, anaknya yang ketiga lahir, Lea masih berharap mendapatkan cinta Yakub. (Kejadian 29:34, “Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: ‘Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya.’ Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi.”) Ketika anaknya yang keempat, Yehuda, pengharapan Lea kepada Allah semakin kuat. (Kejadian 29:35, “Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: ‘Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.’ Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.”). Lea berpikir bahwa dengan jumlah anak yang dilahirkannya bagi Yakub, tentunya pengharapannya akan kasih dari sang suami akan terjawab. Saat itu Lea tidak menyadari nubuatan mengenai keturunan Yehuda; bahwa dari keturunannya, Mesias akan datang. Lea tidak pernah tahu hak istimewa yang ia peroleh.

Selanjutnya, Alkitab mencatat bagaimana Lea dan Rahel, kakak-beradik ini, terus bersaing untuk mendapatkan keinginannya masing-masing. Lea menginginkan cinta Yakub, sedangkan Rahel menginginkan anak. Akhirnya Lea kembali melahirkan anak yang kelima dan keenam, serta seorang anak perempuan untuk Yakub. (Kejadian 30 : 17-21, “Lalu Allah mendengarkan permohonan Lea. Lea mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang kelima bagi Yakub. Lalu kata Lea: ‘Allah telah memberi upahku, karena aku telah memberi budakku perempuan kepada suamiku.’ Maka ia menamai anak itu Isakhar. Kemudian Lea mengandung pula dan melahirkan anak laki-laki yang keenam bagi Yakub. Berkatalah Lea: ‘Allah telah memberikan hadiah yang indah kepadaku; sekali ini suamiku akan tinggal bersama-sama dengan aku, karena aku telah melahirkan enam orang anak laki-laki baginya.’ Maka ia menamai anak itu Zebulon. Sesudah itu ia melahirkan seorang anak perempuan dan menamai anak itu Dina.”) Sayang, sampai akhir hayatnya, Yakub tetap mengasihi Rahel lebih daripada ia mengasihi Lea. Namun Lea yang terus berjuang dengan rasa tidak dikasihi, belajar untuk terus memiliki hubungan yang dekat dengan Allah, terus mempercayai Allah dan kedaulatanNya. Kepedihan di dalam kehidupan Lea dipakai Allah sebagai alat membentuk kepekaan, kematangan dan kedewasaannya sebagai seorang wanita.

Cerita Lea merupakan teladan nyata mengenai bagaimana Allah melihat hati kita yang terus berseru kepadaNya di tengah-tengah kesesakan hidup dan sebuah inspirasi bagaimana memperoleh kekuatan dan berkemenangan di dalam penderitaan. Mungkin Anda pernah mengalami perasaan seperti yang dirasakan oleh Lea. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai wanita, perasaan tidak dikasihi bisa muncul saat Anda berjerih lelah seharian bekerja, mengurus urusan rumah tangga, namun tidak dihargai. Atau mungkin sebagai anak perempuan Anda telah berusaha melakukan segala sesuatunya dengan benar sesuai keinginan orang tua, namun semua itu tidak dipandang. Kecewa adalah respon yang wajar dan biasanya muncul dalam kondisi seperti ini. Namun sebenarnya, saat Anda merasa tidak dikasihi, tidak dihargai dan tidak dimengerti, itulah kesempatan di mana Allah “mendandani” hati Anda menjadi seperti yang Ia mau. Hati Anda, bukan hasil yang Anda capai atau perbuatan Anda, selalu menjadi daya tarik bagi Allah untuk memproses kehidupan Anda sesuai dengan kehendakNya yang sempurna. Allah pun menilai dan memandang Lea berdasarkan hatinya dan bukan berdasarkan penampilan atau “prestasi”nya dengan melahirkan 7 orang anak bagi Yakub. Di akhir hidupnya, Lea mengalami bagaimana kasih Allah itu melampaui segala pengharapannya. Mari kita belajar dari hidup Lea, bawa setiap pengharapan kita pada Kristus, agar kita memperoleh kekuatan yang sesungguhnya, yaitu Kristus sendiri. Pengharapan apakah yang sedang dan masih Anda rindukan saat ini? Ingatlah, Lea memang seorang perempuan yang tidak dikasihi, namun ia hidup berkemenangan, karena Allah yang menjadi kekuatannya. (cc/aa)
Sumber: Buku “Ia Dinamai Perempuan” jilid-2 halaman 67-80, Gien Karssen, penerbit: Kalam Hidup)

2019-10-17T17:39:48+07:00