///Who is the real king?

Who is the real king?

Sang Ratu tertegun, diam untuk beberapa saat lamanya. Ia mencoba mencerna apa yang sedang terjadi dengan kerabatnya; berjalan di tengah-tengah kota sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih, berdiri di depan pintu masuk gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. Dengan perantaraan seorang pelayan, Ratu mengirimkan pakaian supaya dipakai oleh kerabatnya itu, tetapi tetap saja pakaian itu tidak diterimanya.  Pada akhirnya, Ratu meminta orang kepercayaannya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pesan yang dibawa kembali oleh pelayannya bukan saja menambah kerisauan, tetapi juga membuat pikiran Ratu seolah diamuk badai. Sulit rasanya memutuskan untuk lebih mendengar hati atau pikirannya. Terlebih lagi, si kerabat menyampaikan pesan penting agar Ratu menghadap Raja dan memintakan pembelaan atas bangsanya.

Logika Ratu bergerak cepat, ia meminta pelayannya kembali kepada si kerabat untuk memberitahukan bahwa siapa pun yang menghadap Raja di pelataran dalam tanpa dipanggil akan berhadapan dengan risiko hukuman mati, dan sebulan sudah Raja tidak memanggilnya. Namun jawaban si kerabat membawa dampak hebat dalam diri Ratu. Menyadarkan dirinya sepenuhnya, bahwa ini adalah hal yang sangat serius, lebih serius daripada hidupnya sendiri….

Ratu pun terdiam, sebuah kesadaran sekejap datang dalam pikirannya, bahwa ada “Pribadi” yang lebih agung, mulia, besar, berdaulat dan berkuasa atas semesta alam daripada Raja yang selama ini dihormati dan diseganinya. Kesadaran  itu mulai menguasai hati dan pikirannya, bahkan hidup Raja yang disegani seluruh rakyatnya itu ada dalam daulat “Pribadi” yang dia sembah dan percaya itu. Sang “Pribadi” ini namanya sudah didengar sejak masa kecil Ratu, karena banyak perbuatan hebat dan besar yang dilakukan Sang Pribadi atas bangsanya. Ratu sangat ingat, karena sering diceritakan, bagaimana Sang “Pribadi” ini membebaskan bangsanya keluar dari tanah perbudakan dengan disertai begitu banyak mujizat dan tanda-tanda heran, seolah seluruh alam semesta takluk kepadaNya. Air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, sampar pada ternak, barah yang menyakitkan, hujan es, belalang, dan puncak yang paling mengerikan yaitu kematian setiap anak sulung hewan maupun manusia, tidak terkecuali putera raja negeri yang memperbudak bangsanya selama 400 tahun. Sang “Pribadi” menyertai perjalanan panjang bangsanya menuju tanah yang dijanjikan, dan cerita ajaib ini tidak pernah berhenti diceritakan. Pikiran Ratu seolah memutar ulang kisah-kisah yang seumur hidupnya selalu dan berulang-ulang didengarnya itu.

Ada sesuatu yang berubah di hati dan pikiran Ratu sejak kesadaran itu datang: dia tidak lagi takut dan gusar, karena dia tahu Sang “Pribadi” adalah pembela dan penjaga bangsanya. Apalagi kerabatnya berkata, “Jangan kamu kira karena kamu ada di istana maka kamu akan terluput, karena kalau kamu tidak melakukan sesuatu tetap akan ada kelepasan dari pihak lain dan engkau dan kaum keluargamu akan binasa. Jangan-jangan engkau jadi ratu itu adalah untuk maksud ini.”

Oleh karenanya, Ratu memberikan jawaban kepada kerabatnya yang sedang berduka hebat itu. Ratu minta seluruh penduduk yang sebangsa dengannya untuk berpuasa bagi dia. Tidak makan dan tidak minum selama 3 hari tanpa berhenti, sementara Ratu bersama dengan dayang-dayangnya pun akan berpuasa seperti itu juga. Setelah masa puasa itu lewat, Ratu akan menghadap Raja dengan segala risikonya, “…kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” Kemudian, tepat seperti itulah si kerabat melakukan perintah Ratu.

Sang “Pribadi” pun menyatakan diriNya dengan cara yang mengagumkan. Setelah lewat 3 hari masa puasa, Ratu menghadap Raja dan ternyata Raja bersedia menerimanya dengan tanda tongkat emas yang terulur. Disentuhnya ujung tongkat emas Raja dan disampaikannyalah undangan untuk sebuah pertemuan pada hari itu. Undangan ditujukan kepada Raja dan si provokator… Ya, hanya 2 orang yang diundang oleh Ratu, karena ini adalah undangan istimewa untuk sebuah perjamuan yang istimewa pula.

Lewat strategi dan pendekatan seorang ratu, diundanglah provokator yang berhati jahat itu untuk menghadiri sebuah perjamuan. Tentulah ini membuat si provokator merasa tersanjung. Bayangkan, undangan untuk hadir dalam perjamuan pribadi Sang Ratu! Hanya dia, Raja dan Ratu yang akan hadir dalam perjamuan itu. Betapa terhormatnya. Si provokator pun makan minum dengan bangga dan bersukacita.

Ternyata, undangan itu masih diikuti oleh undangan yang kedua. Raja hadir dengan bangga karena dapat memenuhi permintaan permaisuri yang dikasihinya. Sementara, Ratu dalam ketenangannya tak putus berdoa kepada Sang “Pribadi” yang dia percaya berdaulat penuh atas setiap ide dan pertimbangan, sambil mengamati waktu, cara, dan kalimat yang tepat yang akan diucapkannya.

Akhir dari perjamuan itu hanya terprediksi oleh Sang Ratu. Dengan tenang, Ratu menyampaikan penjelasannya di hadapan Raja dan si “tamu istimewa”. Raja terkejut demi mendengar penjelasan pemaisurinya dan tidak habis pikir membayangkan kejahatan yang akan dilakukan oleh orang kepercayaannya yang ternyata tak lebih dari seorang provokator yang hina. Sementara itu, si provokator serasa berhenti detak jantungnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh ratu. Tak pernah dibayangkannya bahwa tiang gantungan yang sedianya disiapkan untuk musuhnya adalah tiang gantungan untuk lehernya sendiri.

Bagaimana dengan Sang “Pribadi”? Sesungguhnya Dia ada dalam setiap peristiwa yang terjadi, di setiap hitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik. Bahkan peristiwa ini tercatat dalam catatan sejarah kehidupan dan peradaban manusia pada masa itu dan terus dibaca hingga saat ini karena tertulis dalam buku panduan kehidupan, yaitu Alkitab. Siapakah sesungguhnya Sang “Pribadi” itu? Dia tidak tertulis tapi kehadiranNya sangat terasa dalam sejarah kehidupan Ratu: Dialah RAJA yang sesungguhnya, yang kekal abadi, penuh dengan kemegahan, kebesaran, kejayaan, keagungan, keindahan dan kemuliaan. Tidak seorang raja pun di bumi dapat dibandingkan denganNya.

Demikianlah kehidupan ini memiliki batas tipis di dalam kesadaran, kita bahwa ada hal yang lebih besar dan mulia daripada kemuliaan yang terlihat dengan kasat mata. Kadang kala yang tidak terlihat itu diremehkan dan tidak diperhitungkan, karena manusia cenderung melihat dan menghargai yang terlihat. Mari belajar dari kehidupan Sang Ratu, untuk melihat apa yang tidak terlihat dengan mata hati kita, karena itulah kehidupan yang sesungguhnya!

(Disadur dari Kitab Ester)

Pertanyaan refleksi:

1. Seberapa sering saya menyadari pribadi Tuhan sebagai Raja di dalam kehidupan saya?

2. Seberapa sering saya mengakui kedaulatanNya atas hidup saya?

3. Bagaimana cara saya mengekspresikan rasa hormat kepada Tuhan sebagai “Raja” di hidup saya selama ini?

2019-10-17T15:25:00+07:00