///Yang terpenting dan terutama

Yang terpenting dan terutama

Yang Terpenting dan Terutama

“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:21-23)

Awal tahun dapat menjadi sebuah momen langkah baru untuk kita kembali menata kehidupan, baik itu jangka pendek (sehari-hari) maupun jangka panjang (bulanan ataupun tahunan). Kita dapat mulai bergerak untuk membuat goal setting untuk tahun 2015 ini, meskipun di tahun-tahun lalu tidak sedikit yang meleset dari goal setting yang kita buat. Hal ini adalah bukti bahwa sekalipun kita telah memiliki rancangan atas hidup ini, namun rancangan Tuhanlah yang berkuasa dan berdaulat sepenuhnya atas kehidupan kita sebagai anak-anakNya (“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” – Yes. 55:8-9). Hal ini memang bisa jadi tampak tidak pasti, namun hendaknya kita tidak lupa satu hal yang pasti, bahwa Tuhan selalu memberikan kasih setiaNya yang baru setiap hari.

Apapun rencana dan target yang ada dalam goal setting kita di tahun 2015 ini, kehidupan yang kita jalani setiap hari tidak akan pernah lepas dari panggilan hidup kita sebagai seorang wanita. Alkitab menyatakan dengan sangat jelas bahwa Allah sangat memperhatikan kaum wanita, dan Yesus pun demikian. Wanita-wanitalah yang pertama kali datang ke salib Yesus dan wanitalah orang-orang yang terakhir pergi dari situ. Wanita adalah orang-orang pertama yang diutus oleh Yesus untuk memberitakan kepada kaum pria mengenai kebangkitanNya dan Alkitab mencatat bahwa para wanita menjadi saksi-saksi yang dapat diandalkan akan kebenaran mengenai Yesus. Meskipun pada zaman itu para wanita cenderung diperlakukan secara tidak hormat, tidak ramah dan cenderung dipandang sebagai benda/harta milik (termasuk oleh para rabi), Yesus justru memperlakukan para wanita dengan gaya yang berbeda. Yesus seolah “menunggu” wanita Samaria di tepi perigi untuk membawa hidupnya menyembah Allah yang sejati, dan Yesus mengijinkan diriNya disentuh oleh wanita yang mengalami sakit pendarahan yang menurut kebudayaan di jaman itu dianggap najis/kotor (Luk. 8:40-48). Ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki visi bagi wanita. Apakah kita sebagai wanita melihat cara pandang Yesus ini? Melihat diri kita sebagaimana Allah melihat akan menolong kita menjalani kehidupan yang sesuai dengan rancangan Allah.

Jadi apa visi Allah bagi wanita ini? Di akhir dari seluruh karya penciptaanNya, Allah “melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:31), itulah perkataan Allah setelah Ia menciptakan manusia. Alkitab menulis hal yang sangat khusus yaitu mandat untuk kehidupan wanita, Tuhan memberikan goal setting untuk karyaNya yang terbaik: “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’” (Kej. 2:18). Itulah alasan kita diciptakan dan itulah panggilan hidup kita sebagai wanita, yaitu menjadi penolong yang sepadan kepada orang-orang yang kita temui setiap hari.

Sebagai penolong, wanita menjadi gambaran akan kasih dan kekuasaan Tuhan kepada dunia ini. Dengan kemampuan intuitif yang dimilikinya, wanita berbeda dari ciptaan Allah lainnya, karena ia diberi kepekaan khusus oleh Tuhan untuk menyalurkan kasih. Sehingga, ukuran keberhasilan seorang wanita ialah kemampuannya untuk menjadi penyalur kasih yang efektif dalam lingkungannya. Minimal, peran wanita menikah di dalam keluarga sebagai home maker menjadikan dirinya sebagai penyalur kasih dan kehidupan bagi suami dan anak-anaknya; dan peran wanita single sebagai penolong akan menyalurkan kasih dan kehidupan bagi orang-orang di lingkungannya sehari-hari.

Kasih adalah kualitas utama yang harus dimiliki setiap wanita Kristen. Bagaimana merealisasikannya dalam hidup kita sehari-hari? Kemampuan kita untuk mengasihi sesama adalah tergantung dari seberapa dalam kita mengasihi Allah (Luk. 10:27, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”). Ini tidak selalu mudah, karena hidup kita tidak selalu berjalan dengan mudah. Namun justru keadaan-keadaan traumatis atau tekanan-tekanan yang kita temui dalam kehidupan akan mengajarkan kita untuk semakin dan semakin dalam mengasihi Allah, sehingga kita pun akan semakin mampu dan efektif dalam menyalurkan kasih kepada sesama, seperti yang dikehendakiNya.

Memang iman dan pengharapan sangat dibutuhkan untuk menghadapi hari esok, tetapi kasih merupakan hal terbesar yang kita butuhkan untuk dapat menggerakan iman dalam kehidupan ini (1 Kor. 13:13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”). Kasih memampukan kita untuk memecahkan masalah, menerima keadaan yang sukar dan menemukan jalan untuk mengatasinya. Kasih mengubah masalah menjadi berkat. Kasih mempengaruhi kepribadian dan cara pandang kita akan kehidupan. Kasih mengalirkan pengampunan. Kasih memampukan kita untuk berkomunikasi dengan orang yang kita anggap “sulit” untuk diajak berkomunikasi. Kasih menciptakan sikap yang positif dan membangkitkan kepercayaan diri. Kasih melahirkan kecantikan batin dalam diri setiap wanita. Kasih mendewasakan kita. Kasihlah yang terpenting dan yang terutama.

Mari, kita jadikan kasih sebagai urutan pertama dalam goal setting kita di tahun 2015 ini. Renungkan dan temukan penerapannya melalui komitmen tindakan kita yang paling sederhana yang akan kita lakukan sehari-hari di tahun ini. Jika selama ini Anda kurang bersyukur, belajarlah bersyukur dari hati. Jika selama ini Anda kurang menghargai orang lain, belajarlah menghargai dengan ketulusan. Jika selama ini Anda kurang mengampuni, belajarlah untuk melihat dan menemukan hal-hal baik yang ada pada orang yang sulit Anda ampuni. Jika selama ini Anda kurang peduli, belajarlah untuk peduli tanpa pamrih. Jika selama ini Anda kurang bermurah hati, belajarlah untuk peka akan kebutuhan orang lain dan melakukan/memberikan sesuatu untuk menjawabnya, sesuai dengan kemampuan Anda. Catat hal-hal tersebut dalam buku jurnal pribadi Anda untuk menolong Anda mengingat dan mempelajari prosesnya. Kepada siapa kita paling sulit melakukan tindakan kasih, mulailah dari titik itu, maka Allah akan memampukan kita. Ingatlah, Allah memanggil wanita untuk menjadi penolong (bahasa asli: ezer = helpmeet) untuk orang-orang di sekitar kita. Penuhilah visi Allah, jadilah penolong, karena itulah panggilan hidup yang Allah berikan untuk setiap wanitaNya. (/cc)

Referensi: Beth Moore, “Woman and Her God.” Audrey Bowie, “Menjadi Wanita Allah.”

2019-11-01T11:04:44+07:00